Pikiran Rakyat
USD Jual 14.644,00 Beli 14.546,00 | Umumnya berawan, 23.8 ° C

Demonstrasi Besar Guncang Iran, Rouhani Salahkan Amerika Serikat

Huminca Sinaga

TEHERAN, (PR).- Presiden Iran Hassan Rouhani, Selasa 26 Juni 2018 mengatakan, negaranya sedang "bertempur" dengan Amerika Serikat sehari setelah para demonstran marah akibat kenaikan harga kebutuhan pokok dan lainnya yang dinilai sudah keterlaluan.

Warga Iran kesal dengan melemahnya perekonomian negara mereka sehingga melancarkan protes terhadap pemerintah. Namun, pemerintah menyalahkan Amerika Serikat atas memburuknya ekonomi di Iran.

​Washington Post dan The Guardian melaporkan, dalam pidato yang disiarkan televisi, Rouhani menyalahkan Amerika Serikat atas kesengsaraan Iran dan mengatakan Amerika Serikat berusaha merusak negara dengan menciptakan "perang ekonomi."

" Amerika Serikat tidak dapat mengalahkan negara kita, musuh kita tidak bisa membuat kita bertekuk lutut," katanya.

Komentar Rouhani muncul setelah demonstran marah atas memburuknya ekonomi di negara mereka. Namun, protes mereka di depan gedung parlemen dihadang polisi setempat. Peristiwa itu adalah konfrontasi pertama sejak demonstrasi serupa mengguncang negara tersebut awal tahun ini.

Demonstrasi terbaru ini mengisyaratkan kegelisahan luas warga setempat setelah keputusan Presiden Donald Trump untuk menarik Amerika Serikat dari kesepakatan nuklir Teheran.

Tidak jelas siapa yang memimpin protes pada Senin 25 Juni 2018. Kantor berita semi resmi Iran, Fars, ISNA, dan Tasnim menggambarkan protes di Grand Bazaar terjadi setelah nilai tukar mata uang Iran, rial turun signifikan menjadi 90.000 rial per satu dolar Amerika Serikat di pasar gelap negara itu meskipun pemerintah berusaha untuk mengendalikan nilai tukar mata uang.

Video yang diunggah ke media sosial menunjukkan pemrotes di Grand Bazaar yang mengganggu pemilik toko yang menolak menutup toko mereka.

Beberapa saat kemudian, sekitar 2 kilometer dari Grand Bazaar, video yang dibagikan sejumlah warga Iran di media sosial muncul untuk menunjukkan kerumunan massa pemrotes yang dihadapi polisi di parlemen. Kantor berita ISNA melaporkan bahwa pihak berwenang menahan banyak demonstran.

Jaksa Abbas Jafari Dolatabadi mengatakan "provokator utama" adalah pihak yang merencanakan protes dan mengancam pemilik toko untuk menutup toko mereka telah ditangkap. Dia tidak merinci jumlah orang yang ditahan.

Akan tetapi, ISNA melaporkan bahwa jur bicara parlemen negara itu, Ali Larijani, mengatakan bahwa pemerintahan Rouhani belum melakukan usaha yang cukup untuk mengatasi masalah ekonomi.

Akhir tahun lalu, protes ekonomi yang serupa mengguncang Iran dan menyebar ke sekitar 75 kota menjadi demonstrasi terbesar di negara itu sejak pemilihan presiden yang dipermasalahkan pada 2009. Protes pada akhir Desember 2017 dan awal Januari 2018 menunjukkan setidaknya 25 orang tewas dan hampir 5.000 orang ditangkap.

Iran telah mengumumkan daftar 15 tuntutan untuk meningkatkan hubungan dengan Amerika Serikat, termasuk kembalinya Amerika Serikat ke kesepakatan nuklir 2015 sebagai tanggapan terhadap daftar permintaan serupa yang dibuat oleh Washington bulan lalu.

Pada Mei 2018, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Mike Pompeo menyerukan perubahan besar dalam kebijakan militer dan regional Iran dan mengancam "sanksi terkuat dalam sejarah" jika menolak. Amerika Serikat menarik diri dari perjanjian nuklir penting dengan kekuatan dunia awal bulan Mei 2018 lalu.

Kronologi protes



BBC melaporkan, protes besar di Iran terjadi pada Senin pekan ini. Para pedagang di pasar bersejarah Grand Bazaar di Teheran ikut turun ke jalan-jalan kota itu menentang kenaikan harga bahan pokok dan anjloknya nilai tukar rial.

Berbagai kedai ditutup saat ribuan orang berunjuk rasa di jalan-jalan ibu kota Iran tersebut.

Polisi sempat menembakkan gas air mata ke arah para demonstran saat mereka mendesak ingin berdemo di depan gedung parlemen Iran.

Unjuk rasa itu adalah yang terbesar sejak 2012 lalu ketika warga berang akibat memburuknya ekonomi Iran, setelah dunia internasional menjatuhkan sanksi terkait aktivitas nuklir Iran.

Nilai tukar mata uang



Wartawan BBC di Iran, Kasra Naji mengungkapkan unjuk rasa kala itu telah membuat pemerintah Iran berubah. Pemerintah pun bersedia melakukan diskusi dengan sejumlah negara ekonomi utama dunia terkait pengembangan nuklirnya. Alhasil, sanksi ekonomi dicabut pada 2016.

Akan tetapi, Presiden Amerika Donald Trump, Mei 2018 lalu mengumumkan bahwa Amerika Serikat tidak lagi menganggap kesepakatan pencabutan sanksi. Dengan kata lain, sanksi ekonomi kembali berlaku. Ketakutan atas dampak sanksi ekonomi Amerika Serikat yang mulai berlaku lagi pada Agustus 2018 ini disebut sebagai penyebab anjloknya nilai tukar rial Iran terhadap dollar di sejumlah pasar pertukaran uang tidak resmi.

Satu dolar bernilai 90.000 rial, jauh lebih tinggi dibandingkan saat sebelum Donald Trump mengumumkan sanksi, yaitu 65.000 rial. Pada akhir 2017, nilai tukar satu dolar hanya sekitar 42.900 rial.

Penurunan nilai tukar itu mendorong para pedagang di dua pusat perbelanjaan telepon genggam di Teheran, menutup tokonya dan berunjuk rasa, Minggu 24 Juni 2018​ lalu.

Menteri Komunikasi dan Informasi Iran Mohammad Javad Azari-Jahromi mengklaim para pedagang akhirnya mau kembali membuka toko mereka setelah dia berjanji akan memberikan mereka akses mata uang internasional (dolar, euro, dan sebagainya) untuk aktivitas impor produk mereka.

Sebelumnya, pemerintah Iran juga telah berupaya mencegah anjloknya nilai mata uang April 2018 lalu dengan menyatukan nilai tukar, baik di pasar resmi maupun di pasar tidak resmi. Rial dilarang diperdagangkan di luar nilai resmi 42.000 untuk setiap satu dolarnya.***

Bagikan: