Pikiran Rakyat
USD Jual 13.896,00 Beli 13.994,00 | Sebagian berawan, 18.8 ° C

Warga Amerika Serikat Hujat Donald Trump yang Pisahkan Imigran Gelap dengan Anaknya

Huminca Sinaga

WASHINGTON, (PR).- Warga Amerika Serikat mengecam kebijakan Presiden Donald Trump yang ingin memisahkan anak-anak imigran dari orangtua mereka yang datang ke Amerika Serikat tanpa dokumen sah.

The Guardian, Rabu 20 Juni 2018 melarpokan, Donald Trump berencana mengirim anak-anak tersebut ke tempat penampungan khusus “usia muda”. Namun, kebijakan itu dikecam karena anak-anak seharusnya tidak dipisahkan dari orangtua mereka. Kendati penampungan khusus anak-anak disediakan, banyak kalangan berpendapat anak-anak harus tetap bersama orangtua mereka.

Sementara itu, Donald Trump berkukuh bahwa dia sangat mendukung reformasi imigrasi.

Donald Trump mengatakan kepada para anggota parlemen Amerika Serikat dari Partai Republik bahwa dia "1.000 persen" berada di belakang upaya reformasi imigrasi mereka. Namun, faktanya Donald Trump sampai saat ini justru tidak menawarkan jalan yang jelas ke depan soal reformasi imigrasi. Justru, saat ini pemerintahannya menghadapi kutukan, baik itu dari Partai Republlik maupun partai Demokrat, atas kebijakannya yang memisahkan anak-anak imigran dan orangtua mereka di perbatasan.

Sementara itu, kebijakan Donald Trump dilaporkan sudah mulai dijalankan. The Guardian menyebut, pemerintahan Donald Trump telah mengirim bayi dan anak-anak yang diambil paksa dari orangtua mereka (para imigran yang masuk ke Amerika Serikat tanpa dokumen sah) di daerah perbatasan Amerika Serikat-Meksiko ke tiga tempat penampungan "usia muda" di Texas selatan.

Pengacara dan petugas medis yang telah mengunjungi salah satu tempat penampungan "usia muda" di kawasan Rio Grande, menggambarkan ruang bermain setempat penuh dengan anak-anak prasekolah yang menangis.

Kay Bellor, Wakil Presiden untuk program di Dinas Imigrasi dan Pengungsi Lutheran Amerika Serikat, mengatakan, “Teganya mereka akan menempatkan anak-anak kecil itu di lingkungan institusional! Maksud saya, sulit bagi saya untuk membayangkan bagaimana anak-anak itu dipisahkan dari orangtua mereka. Tak bisa saya bayangkan para balita tersebut sedang ditahan. ”

Sementara Steven Wagner, pejabat Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan Amerika Serikat mengatakan, “Kami memiliki fasilitas khusus yang ditujukan untuk memberikan perawatan kepada anak-anak dengan kebutuhan khusus dan anak-anak usia yang lebih muda seperti yang kami definisikan di bawah 13 tahun, akan jatuh ke dalam kategori itu. “

“Fasilitas tersebut memenuhi standar perizinan negara untuk lembaga kesejahteraan anak dan mereka dikelola oleh orang-orang yang tahu bagaimana menangani kebutuhan terutama yang lebih muda,” ujar Wagner.

Segera diakhiri



Pada pertemuan tertutup dengan anggota parlemen dari Partai Republik di Capitol Hill, para anggota parlemen menyebut Donald Trump sebenarnya juga peduli dengan nasib para keluarga yang anak-anak mereka dipisahkan akibat penerapan kebijakan imigrasi terbaru tersebut. Namun, kata para anggota parlemen, kendati Donald Trump tampak ikut sedih dengan pemisahan anak-anak dari orangtua mereka, Dia tak merasa haus bertanggung jawab atas implementasi kebijakan tersebut. Sebagai gantinya, Donald Trump mendesak anggota parlemen dari Partai Republik untuk meloloskan undang-undang yang bisa membuat keluarga yang terpecah belah kembali bersatu.

Setelah pertemuan di Capitol Hill tersebut, anggota parlemen dari Partai Republik di Florida, Carlos Curbelo mengatakan bahwa Donadl Trump ingin kkebijakan pemisahan anak-anak dan orangtua yang kontroversial itu segera diakhiri.

"Presiden memang ingin semua ini segera berakhir," ujar Carlos.

Sebelumnya, Melania Trump juga ikut mengritik kebijakan pemisahan anak-anak dari orangtua mereka yang datang ke Amerika Serikat tanpa dokumen sah.  BBC melaporkan, Melania Trump akhirnya angkat bicara dalam nada yang berbeda tentang kebijakan suaminya, yang memisahkan orangtua dan anak-anak yang memasuki negara itu dari Meksiko secara ilegal.

Melania Trump percaya bahwa Amerika Serikat perlu menjadi negara yang taat hukum tetapi pada saat bersamaan, Amerika Serikat juga perlu menjadi negara yang berempati terhadap migran, khususnya anak-anak yang terpisahkan dari orangtuanya.

Dia berkomentar atas kontroversi yang berkembang mengenai kebijakan "toleransi nol" yang diberlakukan Donald Trump. Dalam periode enam minggu terakhir, hampir 2.000 keluarga yang dipisahkan.

Orang dewasa yang mencoba menyeberangi perbatasan, yang sebagian bermaksud mencari suaka, ditahan dan menghadapi tuntutan pidana untuk tuduhan masuk secara ilegal.

Akibatnya, ratusan anak kini ditempatkan di pusat-pusat penahanan dan dijauhkan dari orangtua mereka. Kebijakan itu dikecam kelompok-kelompok hak asasi yang menyebutnya sebagai sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya.***

Bagikan: