Pikiran Rakyat
USD Jual 14.095,00 Beli 14.193,00 | Cerah berawan, 30.6 ° C

Maduro Terpilih Lagi Jadi Presiden Venezuela, Dunia Mengecam

Huminca Sinaga

CARACAS, (PR).- Di tengah kondisi ekonomi Venezuela yang carut-marut, Nicolás Maduro secara mengejutkan berhasil mempertahankan jabatannya sebagai presiden untuk periode kedua setelah memenangi pemilu.  Dilansir laman The Guardian, Senin 21 Mei 2018, Maduro berhasil meraup 67,7% suara yang membuatnya kembali menjadi presiden di negara Amerika Latin yang sedang dilanda krisis itu.

Akan tetapi, kemenangannya itu diyakini banyak  kalangan penuh kecurangan. Bahkan, dunia internasional pun telah mengecam dugaan Maduro membeli suara. 

Sementara Maduro membantah tudingan itu. Usai dipastikan sebagai pemenang pemilu, di hadapan para pendukungnya yang berkerumun di luar istana kepresidenan di Caracas pada Minggu malam waktu setempat atau Senin siang WIB, Maduro memuji “proses pemilihan tanpa cela” yang telah mengembalikannya ke tampuk kekuasaan dengan 67,7% suara.

“Ini adalah hari bersejarah! Hari kemenangan heroik! Hari kemenangan yang indah - kemenangan yang sejati," teriak Maduro.

“Seluruh Venezuela telah menang! Demokrasi telah menang! Perdamaian telah menang! Konstitusi telah menang, ini pemilihan yang konstitusional, sah dan legal," ujarnya  sebelum mengklaim:" Kami memiliki presiden rakyat! Seorang presiden yang bekerja! "

KPU Venezuela mengumumkan bahwa jumlah pemilih pada pemilu kali ini rendah,  hanya 46,1%, turun dari 80% yang terdaftar pada pemilihan presiden terakhir pada tahun 2013.  Menurunnya jumlah pemilih disebabkan  boikot oleh kelompok oposisi utama Venezuela.

Tibisay Lucena, kepala komisi pemilihan umum Venezuela, mengatakan kepada wartawan, Maduro mendapatkan lebih dari 5,8 juta suara dibandingkan dengan 1,8 juta saingan terdekatnya, Henri Falcón.

Ketika hasil keluar, pendukung Maduro dilaporkan berpesta kembang api di kawasan miskin  Caracas. Mereka juga menari dan memutar lagu pop Latin di sekitar istana presiden di kawasan pusat kota Miraflores.

Tak diakui



Di pihak lain, kemenangan Maduro sangat kontroversial. Pasalnya, kelompok oposisi dan pemantau pemilu dari luar negeri menemukan banyak kecurangan dalam pemilu 2018 ini. Mayoritas komunitas internasional mengecam kecurangan pemilu yang dilakukan petahana. Komunitas internasional menyebut pemilu Ahad lalu sebagai "penipuan yang dinubuatkan".

Henri Falcón dari kelompok oposisi mengklaim, pembelian suara oleh Maduro begitu marak. Oleh karena itu, kata Henri, pemilu kali ini  "tidak sah" dan harus diulang. "Kami tidak menyetujui proses pemilihan ini dinyatakkan sah," katanya kepada wartawan seperti dilaporkan laman The Guardian, Senin. “Sejauh yang kami ketahui, belum ada pemilihan karena yang sekarang ini tidak sah. Harus ada pemilihan baru di Venezuela," ujarnya lagi.

"Semua orang Venezuela tahu apa yang terjadi hari ini," kata pemimpin oposisi Henrique Capriles, yang kalah tipis dari Maduro pada pemilu 2013 dan kemudian dilarang ikut pemilu 2018. “Venezuela kita yang tercinta harus memiliki pemilihan yang benar-benar bebas dan demokratis di mana kehendak rakyat kita tercermin dalam hasil pemilu,"  ujar Capriles kepada The Guardaian.

Luz Mely Reyes, seorang jurnalis Venezuela terkemuka, menulis di twitter: “Hari ini adalah hari yang menyedihkan bagi demokrasi. Pemerintah bertahan dan memanipulasi, oposisi terbagi dan tidak memiliki strategi. Dan pemilih tanpa panduan atau kepemimpinan. ”

Perwakilah misi  Amerika Serikat di Venezuela kepada PBB mengindikasikan bahwa pemerintahan Trump akan menolak hasil pemilu yang dimenangkan Maduro. "Pemilihan hari ini di Venezuela adalah penghinaan terhadap demokrasi ... Sudah waktunya Maduro pergi," demikian cuitan dari perwakilan misi AS di Venezuela.

Presiden Chili, Sebastián Piñera, mengatakan bahwa negaranya, "seperti mayoritas negara demokratis", tidak akan mengakui hasil pemilu Venezuela. “Pemilu Venezuela tidak memenuhi standar minimum untuk demokrasi sejati. Ini bukan pemilihan yang bersih atau sah dan yang menang saat ini tidak mewakili kehendak bebas dan berdaulat rakyat Venezuela, ”tulis Pinera.

Merespons tudingan dunia internasional bahwa pemilu penuh kecurangan,  Maduro mengatakan bahwa tuduhan itu tak benar. Dalam pidatonya yang disampaikan Minggu tengah malam waktu setempat atau Senin siang WIB, Maduro tak terlalu membahas tanggapan komunitas internasional. 

Maduri lebih banyak mengungkapkan janji-janjinya untuk bekerja cepat menstabilkan ekonomi negaranya, di tengah-tengah krisis parah yang telah membuat perekonomian Caracas  menyusut sebesar 13% tahun lalu.  Selain itu, krisis ekonomi parah juga telah menyebabkan lebih dari satu juta orang melarikan diri ke luar negeri sejak 2015.

"Anda telah menaruh kepercayaan Anda pada saya dan saya akan membayar kembali kepercayaan yang tak terbatas dan penuh kasih ini," kata Maduro seperti dilaporkan The Guardian.  “Hari ini saya mencintai orang-orang Venezuela lebih dari sebelumnya!" ujarnya lagi menambahkan seperti dilaporkan The Guardian.***

Bagikan: