Pikiran Rakyat
USD Jual 14.279,00 Beli 14.181,00 | Sedikit awan, 16.1 ° C

Duterte: Pengadilan Internasional Tak Bisa Menyentuh Saya

Huminca Sinaga
PRESIDEN Filipina Rodrigo Duterte berbicara di depan para ibu rumah tangga untuk berpartisipasi dalam kampanye antinarkoba di Pampanga, Filipina, Kamis 22 Desember 2016.*
PRESIDEN Filipina Rodrigo Duterte berbicara di depan para ibu rumah tangga untuk berpartisipasi dalam kampanye antinarkoba di Pampanga, Filipina, Kamis 22 Desember 2016.*

MANILA, (PR).- Presiden Filipina Rodrigo Duterte menolak putusan hukum Pengadilan Pidana Internasional (ICC) terhadap dia. 

Reuters melaporkan sebagaimana dikutip Yahoo News, Rabu 7 Maret 2018, Rodrigo Duterte mengatakan bahwa tidak ada kemungkinan dia diadili di ICC. 

Pemimpin yang  kerap berbicara dengan berapi-api itu, sejak tahun lalu, telah menjadi subjek pengaduan sejumlah pengacara HAM Filipina ke ICC yang menuduhnya melakukan pembunuhan sebagai "praktik terbaik" dalam perangnya melawan narkoba.

ICC bulan lalu mengatakan bahwa mereka telah memulai pemeriksaan pendahuluan untuk menentukan apakah undang-undang tersebut memiliki yurisdiksi dan apakah Rodrigo Duterte telah melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan.

"Anda tidak bisa mendapatkan yurisdiksi atas saya, tidak dalam sejuta tahun pun," kata Rodrigo Duterte. 

Dia menambahkan, "Percayalah. Mereka tidak akan pernah bisa berharap memiliki yurisdiksi atas pribadi saya."

Rodrigo Duterte sebelumnya menyebut ICC "tidak berguna" dan "munafik". Sejak menjadi Presiden Filipina, dia kerap melontarkan komentar kontroversial dan hal itu telah menjadi ciri khasnya.

Meski dia mengatakan bahwa dia akan terbuka untuk penyelidikan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa dan ICC, faktanya, minggu lalu dia memerintahkan polisi dan aparat kekamanan di Filipina tidak bekerja sama dengan kedua lembaga tersebut.

ICC adalah pengadilan pilihan dan langkah terakhir ketika pemerintah merasa tidak bersedia atau tidak dapat melakukannya.

Juru bicara kepresidenan Filipina Harry Roque memperkirakan bahwa ICC akan menganggapnya tidak memiliki yurisdiksi di Filipina dan tidak ada kejahatan untuk diselidiki.

"Karena pengadilan Filipina bersedia dan punya yuridiksi, Pengadilan Pidana Internasional tidak memiliki yurisdiksi," kata Roque dalam siaran berita reguler di Manila.

"Jika menyangkut hal yang pantas, perang melawan narkoba tidak dapat dianggap sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan," katanya, menggambarkan kampanye Rodrigo Duterte melawan mafia narkoba  tersebut sebagai tindakan yang sah dan jelas.

Seperti diketahui, Mahkamah Pidana Internasional akan menyelidiki dugaan pelanggaran hukum dalam perang melawan narkoba yang dilancarkan pemerintahan Rodrigo Duterte. Ini membuat Filipina menjadi negara pertama di Asia Tenggara yang diselidiki Mahkamah Pidana Internasional.***

Bagikan: