Pikiran Rakyat
USD Jual 14.260,00 Beli 14.162,00 | Berawan, 22.2 ° C

Tengkorak Perempuan Belanda Tertua Ditemukan di Bawah Laut Utara

BAGIAN dari tengkorak manusia prasejarah dan sebuah tulang bison yang berpola zigzag – dijuluki sebagai “perempuan Belanda tertua” dan “karya seni Belanda tertua” di dunia – yang telah diungkapkan oleh para peneliti di Belanda, dalam penelitian sebuah harta karun arkeologi manusia di bawah Laut Utara.

Seorang nelayan di Belanda menemukan sebagian tengkorak dan tulang dalam beberapa tahun terakhir, di bagian dataran yang tenggelam yang menghubungkan daratan Eropa dan Britania Raya sampai sekitar 9.000 tahun yang lalu.

Keduanya ditemukan dari akhir zaman es, sekitar 13.000 tahun yang lalu, ketika sebagian besar Laut Utara adalah sebuah hamparan dataran kering yang luasnya sampai 80 meter di atas permukaan laut ilmuwan menyebut wilayah itu adalah Doggerland. Namanya diambil dari nama dataran Dogger Bank antara Belanda dan Inggris. Tempat itu dinamai dari kapal-kapal nelayan Belanda abad pertengahan yang disebut dogger.

“Perkumpulan pemburu pasti telah menjelajahi dataran ini dan mungkin satu waktu mereka mengunjungi apa yang sekarang menjadi Inggris dan waktu berikutnya mereka tinggal di tempat yang sekarang menjadi belanda,” ujar arkeolog Marcel Niekus kepada Live Science.

Nieku, yang mempimpin arkeologi Stone Foundation di Belanda, adalah salah satu penulis dari penelitian baru yang diterbitkan dalam jurnal Antiquity, dengan rincian bahwa bagian dari tengkorak kuno dan tulang bison sudah dipulihkan dari Laut Utara.

“Dan sekarang dataran yang tenggelam ini sangat penting bagi pemahaman kami mengenai masa lalu kami,” ujar Niekus. “Jadi, memang ada hartu karun dari penemuan arkeologi.”

Perempuan Belanda tertua



Bagian tengkorak tersebut ditemukan di dekat pantai pada tahun 2013. Para ilmuwan telah menggunakan analisis radiokarbon untuk mengetahui bagian tersebut berasal dari sekitar 13,000 tahun yang lalu, menjadikan itu tulang tertua dari manusia modern awal yang ditemukan di Laut Utara.

Analisis kimia dari bagian tengkorak – bagian dari tulang parietal kiri, satu dari dua lempeng bulat membentuk kubah tengkorak – menunjukkan bahwa itu berasa dari orang dewasa muda atau usia menengah, antara 22 dan 45 tahun, menurut penelitian baru.

Bentuk tengkorak tersebut menunjukkan bahwa itu berasal dari seorang perempuan, walaupun para peneliti tidak dapat mengonfirmasi jenis kelamis dari bagian tulang.

Analisis kimia juga memastikan bahwa daging dari hewan yang diburu merupalkan bagian yang penting dari makanan sehari-hari seseorang.

Pada saat itu, manusia yang termasuk dalam perkumpulan pemburu adalah “pelopor” di hutan pinus yang menyebar di dataran yang tenggelam setelah zaman es terakhir, ujar arkeolog Luc Amkretz dari National Museum of Antiquities Belanda, penulis utama penelitian baru.

Karena spesies seperti mammoth dan badak wol punah di daerah yang panas, hewan lain seperti elk (rusa besar), rusa merah, babi hutan dan beberapa bison akan pindah ke hutan baru, yang diikuti oleh para pemburu, ujar Amkreutz kepada Live Science.

“Itu adalah waktu perubahan, dan ini adalah orang baru pertama yang datang dengan perubahan itu, para pemburu sejati hutan,” ujarnya. “Seiring dengan hutan yang berkembang lebih jauh ke utara dan barat, begitu pula dengan nenek moyang kita.”

Karya seni Belanda tertua



Tulang bison yang terukir sedikit lebih tua dari bagian tengkorak manusia yang berumur sekitar 13.500 tahun, dari hasil pengujian radiokarbon. Nelayan menemukan tulang tersebut di daerah Brown Ridge pada tahun 2005. Kemudian diberikan ke National Museum of Antiquities Belanda.

Pola zigzag yang diukir yang digunakan untuk menghias tulang merupakan ciri khas gaya seni abstrak dan geometris, yang dikaitkan dengan budaya Federmesser dari Eropa barat laut selama periode Paleolitik akhir (bagian dari zaman batu tua), ujar Niekus, yang mempelajari karya senia prasejarah untuk penelitian baru.

“Sudah dijelaskan bahwa motif berulang berhubungan dengan air mengalir, namun penjelasan lain, yang ingin kami jelajahi lebih jauh adalah fakta bahwa pola zigzag ini terjadi pada (halusinasi) saat dukun sedang dalam keadaan kerasukan,” ujar Niekus. “Jadi, mungkin perdukunan menjadi lebih penting selama budaya Federmesser.”

Ukiran zigzag yang serupa telah ditemukan pada artifak buatan manusia dari seluruh Eropa pada saat itu – di tulang rahang seekor kuda di Inggris, tanduk rusa di Prancis dan tanduk elk di Polandia, ujarnya.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa daerah yang berbeda memiliki “kosakata simbolik yang sama” yang dapat dipahami oleh orang-orang di sebagian besar wilayah barat laut Eropa selama periode Paleolitik akhir, ujarnya.

“Kami pikir, ini juga berarti bahwa harus ada kontak yang intensif di wilayah yang luas,” ujar Niekus. (Ines Anggun)***

Bagikan: