Pikiran Rakyat
USD Jual 13.986,00 Beli 14.084,00 | Umumnya cerah, 33 ° C

Menimbang Nasib Jerusalem di Tangan Pemegang Hak Veto DK PBB

Yusuf Wijanarko
MILITAN Hamas turun ke jalanan di Jalur Gaza, Kamis 7 Desember 2017 dalam protes menentang keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menjadikan Jerusalem ibu kota Israel.*
MILITAN Hamas turun ke jalanan di Jalur Gaza, Kamis 7 Desember 2017 dalam protes menentang keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menjadikan Jerusalem ibu kota Israel.*

BELUM lepas sehari setelah pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengakui Jerusalem sebagai ibu kota Israel, dunia langsung bereaksi.

Keputusan Donald Trump itu memicu kemarahan dunia Islam. Di Palestina, demonstrasi dan bentrokan sudah pecah hanya beberapa jam setelah pernyataan sikap Amerika Serikat. 

Sejumlah negara, khususnya yang punya konfigurasi sosial Islam, langsung memberikan pernyataan mengecam atas langkah washington itu, tak terkecuali Indonesia

Qatar, Turki, Prancis, Inggris, Arab Saudi, Tiongkok, Rusia, dan Iran adalah sejumlah negara lain yang juga langsung bereaksi keras. 

Sejauh ini, Arab Saudi dan Iran sudah menyatakan penolakannya terhadap Washington. Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei mengatakan, Amerika Serikat mencoba mengacaukan wilayah tersebut dan memulai perang untuk melindungi keamanan Israel. Demikian dilaporkan Reuters.

Di tempat lain, Arab Saudi belum menyampaikan sikap resminya. Ayatollah Ali Khamenei menyindir Arab Saudi dengan menyatakan, ada banyak penguasa di kawasan Timur Tengah yang menurut pada kehendak Washington. Mereka menari sesuai dengan nada-nada yang dimainkan Amerika Serikat. 

Sidang Dewan Keamanan PBB



Dewan Keamanan PBB kemungkinan akan menggelar sidang pada Jumat 8 Desember 2017 ini guna membahas status Jerusalem. 

Digelarnya sidang itu merupakan permintaan 8 dari 15 anggota Dewan Keamanan PBB. Prancis, Bolivia, Mesir, Italia, Senegal, Swedia, Inggris, dan Uruguay meminta Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres secara terbuka melakukan pemaparan di Dewan Keamanan.

Wim Tohari Daniealdi menyatakan, Jika persoalan itu dibawa ke Dewan Keamanan PBB, kemungkinan besar Tiongkok yang akan menjadi penentu. 

”Sikap Rusia juga penting karena mereka punya kepentingan secara religi di Jerusalem yang merupakan ibu kota tiga agama. Menarik untuk menunggu sikap Vladimir Putin tentang hal ini,” ucapnya.

Jika dicermati, dari lima negara pemegang hak Veto di Dewan Keamanan PBB yaitu Tiongkok, Prancis, Rusia, Inggris Raya, dan Amerika Serikat, empat negara sudah mengecam putusan yang diambil negara yang disebut terakhir.

Wim Tohari Daniealdi menyebut, inilah momentum yang tepat untuk semakin mempersatukan umat Islam dunia. Namun, dia mengingatkan masyarakat di Indonesia untuk tidak terprovokasi yang menggunakan isu ini untuk kepentingan terselubung.***

Bagikan: