Pikiran Rakyat
USD Jual 14.118,00 Beli 14.216,00 | Cerah berawan, 31 ° C

KTT G20 Diwarnai Protes, 29 Aktivis Black Bloc Ditangkap

Huminca Sinaga

HAMBURG, (PR).- Presiden AS Donald Trump bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk pertama kalinya sejak sang miliuner memenangi pilpres AS 2016 lalu. Seperti dilaporkan Reuters, Jumat, 7 Juli 2017, Putin dan Trump bertemu di selasela pelaksanaan KTT G20 yang berlangsung di Hamburg, 7-8 Juli 2017. 

Kedua pemimpin saat bertemu petama kalinya itu, tampak saling berjabatan tangan dan sempat mengobrol sebentar. Reuters menyebutkan, obrolan keduanya terkait sejumlah masalah global seperti konflik Suriah dan konflik Ukraina. 

Di kedua konflik ini, Rusia mengambil langkah bersebrangan dengan Amerika Serikat. Putin mendukung rezim Assad  di Suriah, sedangkan di Ukraina, pemimpin Rusia tersebut mendukung kelompok separatis. Sementara Trump, sama dengan presiden AS sebelumnya, menginginkan Assad segera lengser. 

Adapun untuk masalah di Ukraina, AS mendukung kedaulatan Ukraina sehingga menyayangkan sikap separatis yang memilih bergabung dengan Rusia. Konflik di Ukraini ini telah menyebabkan Putin dianggap mennganeksasi Ukraina Timur.

Aksi protes



Sementara itu, pelaksanaan KTT G20 yag dihadiri para pemimpin dunia itu diwarnai aksi demonstrasi dari kelompok antikapitalisme. Seperti dilaporkan Reuters, Jumat, lokasi KTT yang dekat dengan pusat kota membuat para aktivis kiri yang antikapitalisme dari berbagai negara di Eropa dengan mudah mengakses kawasan tersebut.

Para aktivis kiri dari berbagai negara di Eropa itu menuliskan pesan " Selamat Datang Ke Neraka" kepada sejumlah pemimpin dunia, termasuk Donald Trump dan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe yang tiba di HAmburg sejak Kamis, 6 Juli 2017.

Para aktivis kiri, sama seperti pelaksanaan KTT G20 sebelumnya, selalu menyuarakan sikap antikapitalis. Mereka menolak perdagangan bebas dan juga aktivitas ekonomi lainnya yang berbau neoliberalisme.

Untuk mengantisipasi hal yang tak diinginkan, otoritas Jerman meningkatkan keamanan di kota Hamburg. Sejumlah meriam air berteknologi canggih dikerahkan untuk menghalau massa pemrotes mendekati lokasi KTT yang digelar di dekat Sungai Elbe. Meriam air tersebut disebut canggih karena bekerja secara otomatis dengan memanfaatkan sejumlah teknologi sensor. 

Kendati pengamanan diberlakukan sangat ketat, para demonstran yang didominasi anak-anak muda itu tak gentar. Hal ini menyebabkan terjadinya bentrokan. Sekira 29 pemrotes yang merupakan anak-anak muda dari kelompok antikapitalisme ternama di Eropa, Black Bloc, ditangkap polisi. 

Sementara 100 polisi dilaporkan terluka. Para aktivis kiri termasuk dari kubu Black Bloc menuntut sistsem kapitalisme dihapus dan digantikan dengan sistem libertarian yang bertujuan menciptakan masyarakat tanpa hierarki politik, ekonomi dan sosial. 

Korea Utara



Agenda KTT G20 selama ini fokus ke ekonomi, tetapi masalah global lainnya kerap juga dibahas. Untuk kali ini, selain masalah ekonomi, topik lainnya yang akan dibahas dalam KTT di Hamburg tersebut adalah isu nuklir Korea Utara. 

AS sendiri saat ini punya hubungan buruk dengan Pyongyang, bahkan relasi keduanya semakin memburuk setelah Korut mengancam akan menembakkan rudalnya ke wilayah AS. Kendati banyak pengamat meragukan kemampuan Korut memproduksi rudal antarbenua, ancaman Pyongyang tetap saja membuat sejumlah kalangan ketakutan.

AS sendiri tak tinggal diam merespons ancaman Korut tersebut. Bahkan, Amerika Serikat akan mempertimbangkan menggunakan kekuatan militer untuk menghadapi Pyongyang. Duta Besar AS untuk PBB, Nikki Haley, di sela-sela pertemuan anggota DK PBB di New York, mengatakan bahwa pihaknya akan mengajukan resolusi baru terkait Korut. Menurut Halley, pihaknya akan menggunakan semua kekuatan, termasuk militer, jika tak ada pilihan lain untuk menundukkan Korut. 

Di pihak lain, otoritas Tiongkok mengatakan akan mengimplementasikan segala macam sanksi terhadap Korut setelah Pyongyang pada Selasa pekan ini, kembali meluncurkan uji coba rudal. Namun demikian, seperti dilaporkan Reuters, Tiongkok memperingatkan AS untuk tak menggunakan pemberian sanksi terhadap Korut tersebut sebagai pembolehan untuk menerakan sanksi terhadap sejumlah institusi keuangan Beijing yang terlibat kerja sama dengan Pyongyang. 

"Sebagai anggota tetap DK PBB, Tiongkok akan menjalankan semua resolusi yang relevan terkait Korut," demikian pernyataan pejabat Kemenlu Tiongkok Zhu Guangyao di Hamburg.***

Bagikan: