Pikiran Rakyat
USD Jual 13.896,00 Beli 13.994,00 | Sebagian berawan, 18.8 ° C

Badai di Bintik Merah Raksasa Planet Jupiter Bisa Dilihat 'Lebih Dekat'

PESAWAT luar angkasa nirawak Juno, telah satu tahun mengorbit planet Jupiter. Pada 10 Juli 2017 ini, Juno pun akan terbang langsung di atas bintik merah Jupiter alias "the great red spot", sebuah kawasan dengan badai hebat seluas 16.000 kilometer.

Hal ini memungkinkan kita untuk dapat melihat, seperti apa badai tersebut dari dekat. Karena Juno mungkin akan memotret dan mengirimkannya ke bumi situasi badai yang diteliti sejak 350 tahun lalu itu.

"Bintik merah raksasar misterius dari Jupiter mungkin adalah ciri Jupiter yang paling terkenal," kata Scott Bolton, penyidik ​​utama Juno dari Southwest Research Institute di San Antonio.

"Badai monumental ini telah berada di planet terbesar tata surya selama berabad-abad. Kini, Juno dan instrumen penelitiannya yang menembus awan akan menyelam untuk melihat seberapa dalam akar badai ini. Juno akan membantu kita memahami bagaimana badai raksasa ini. Bagaimana cara bekerjanya, dan apa yang membuatnya sangat istimewa," kata dia, seperti dilaporkan situs resmi NASA.

Berdasarkan data yang dihimpun, Great Red Spot adalah bagian dari penerbangan sains Juno keenam di atas puncak awan misterius Jupiter. Perijove (titik di mana orbit berada paling dekat dengan pusat Jupiter) akan terjadi pada hari Senin, 10 Juli, pukul 6:55 siang. PDT (9:55 WIB EDT). Pada saat perijove, Juno akan berada sekitar 2.200 mil (3.500 kilometer) di atas puncak awan planet ini. Sebelas menit dan 33 detik kemudian, Juno akan menempuh jarak 24.713 mil (39.771 kilometer) Juno akan berada tepat di atas puncak awan merah yang melingkar di bintik merah raksasa Jupiter. Pesawat ruang angkasa akan melewati sekitar 5.600 mil (9.000 kilometer) di atas awan Giant Red Spot. Semua delapan instrumen pesawat antariksa dan juga imagernya, JunoCam, akan berada di dalam flyby.

Lebih dekat ke jantung sabuk radiasi



Laporan 4 Juli 2017, pesawat ruang angkasa tersebut akan berada sekitar 71 juta mil (114,5 juta kilometer) di sekitar orbit mengelilingi planet raksasa tersebut. "Keberhasilan pengumpulan ilmu dan data penelitian di Jupiter adalah bukti dedikasi, kreativitas dan kemampuan teknis tim NASA-Juno," kata Rick Nybakken, manajer proyek untuk Juno dari Laboratorium Propulsi Jet NASA di Pasadena, California. "Setiap orbit baru membawa kita lebih dekat ke jantung sabuk radiasi Jupiter, namun sejauh ini pesawat ruang angkasa telah melewati badai elektron yang mengelilingi Jupiter lebih baik daripada yang pernah kita bayangkan."

Juno diluncurkan pada 5 Agustus 2011, dari Cape Canaveral, Florida. Selama misi eksplorasi, Juno terbang rendah di atas puncak awan planet ini  sekitar 2.100 mil (3.400 kilometer). Selama flybys ini, Juno sedang menyelidik di bawah penutup awan yang menutupi Jupiter dan mempelajari aurora untuk mempelajari lebih jauh tentang asal-usul, struktur, atmosfer, dan magnetosfer planet ini.

Hasil penelitian awal dari misi Juno NASA menggambarkan planet terbesar di tata surya kita sebagai dunia yang penuh gejolak. Dengan struktur interior yang sangat rumit, aurora kutub yang energik, dan siklon polar yang besar.

JPL mengelola misi Juno untuk penyelidik utama, Scott Bolton, dari Southwest Research Institute. Misi Juno adalah bagian dari New Frontiers Program yang dikelola oleh Marshall Space Flight Center NASA di Huntsville, Alabama, untuk Direktorat Misi Sains. Lockheed Martin Space Systems, Denver, membangun wahana antariksa. JPL adalah divisi dari Caltech di Pasadena.(Midhar Abdurahman)***

Bagikan: