Pikiran Rakyat
USD Jual 14.089,00 Beli 14.187,00 | Cerah berawan, 21 ° C

Larangan Bawa Laptop ke Kabin Tuai Protes

Huminca Sinaga
Sebuah laptop terlihat melalui mesin pemindai bandara.*
Sebuah laptop terlihat melalui mesin pemindai bandara.*
WASHINGTON, (PR).- Kendati kebijakan larangan membawa laptop ke kabin tak sekontroversial larangan warga dari enam negara memasuki AS, aturan tersebut tetap saja memicu protes warga setempat. Seperti dilaporkan AP, Rabu , 22 Maret 2017, sejumlah warga AS yang sering berpergian ke sejumlah negara Afrika dan Timur Tengah menilai kebijakan tersebut merugikan karena menurunkan produktivitas mereka.

Mereka juga mempertanyakan mengapa aturan tersebut hanya berlaku untuk penerbangan asal sejumlah negara di Afrika dan Timur Tengah, yakni penerbangan langsung dari Turki, Libanon, Yordania, Mesir, Tunisia, dan Arab Saudi.

Mahasiswa doktoral asal Los Angeles Kelsey Norman yang sering pergi ke Lebanon untuk kepentingan penelitian, mengatakan bahwa larangan tersebut merugikannya. Pasalnya, selama ini setiap menumpang pesawat rute Beirut-Los Angeles, dia akan memanfaatkan waktu terbang yanng panjang untuk mengakses laptop, kamera DSLR dan sabak Ketiga gawai ini sudah menjadi kebutuhan sehari-

hari. Oleh karena itu, larangan membawa laptop ke kabin sangat merugikannya.
"Saya itu pasti akan cek laptop untuk menulis atau pun membaca sejumlah dokumen penelitian. Kini laptop tak bleh masuk kabin, ini merugikan. Kebijakan seperti ini diskriminatif dan hanya akan melukai reputasi Amerika secara global," ujar Kelsey.

Hal senada juga diungkapkan Banu Akdenizli, warga asli Turki yang menjadi dosen di kampus Amerika. Dia sering menghadiri konferensi di AS sehingga harus terbang 17 jam dari Doha menggunakan maskapai Timur Tengah menuju AS.

Biasanya, sebelum ada larangan, Banu sering memanfaatkan waktu selama penerbangan untuk mempersiapakan makalahnya yang disimpan di laptop.
"Bagi banyak orang, kebijakan tersebut kelihatan tampak sepele, tetapi bagi saya dan kalangan pengguna kelas bisnis, mengakses laptop selama penerbangan itu adalah hal yang tidak bisa ditinggalkan. Saya tak mau buang waktu di pesawat tanpa kehadiran laptop saya," ujar Banu yang merupakan guru besar komunikasi di kampus Northwestern University.

"Di pesawat itu tak melulu nonton film yang disediakan maskapai, tapi sejumlah penumpang juga harus menuntaskan sejumlah pekerjaan," ujarnya lagi seraya menambahkan larangan tersebut menyebabkan produktivitas menurun.

Sementara sejumlah warga lainnya menilai kebijakan tersebut tak berpengaruh. Warga AS Nick Lieber mengatakan, April mendatang dirinya harus terbang ke Chicago dari Yerusalem. Pesawat akan transit di Amman, Yordania sebelum menuju AS.

Kebijakan baru membuatnya harus menyimpan laptop di bagasi. Baginya, ini tak masalah karena dia juga tak akan bekerja selama di pesawat. "Laptop disimpan di bagasi tak masalah. Saya memang tak akan membuka laptop selama di kabin," ujarnya kepada Kantor Berita AP.*
Bagikan: