Pikiran Rakyat
USD Jual 14.095,00 Beli 14.193,00 | Umumnya berawan, 20.5 ° C

Filipina Kembali Menegakkan Hukuman Mati dengan Suntik atau Tembak

Huminca Sinaga
MANILA, (PR).- Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Filipina, Selasa, 7 Maret 2017, menyetujui undang-undang untuk menghidupkan kembali hukuman mati, baik itu dengan cara disuntik maupun ditembak. Sikap DPR ini pun memicu protes dari berbagai kalangan di Filipina, mulai dari kaum pelajar, aktivis HAM sampai rohaniwan. Mereka membawa sejumlah poster bertuliskan "No To Death Penalty! Panday Sining".

Seperti dilaporkan Reuters, kendati di depang gedung DPR, ratusan orang menggelar demonstrasi menentang hukuman mati, lembaga legislaif di Filipina tersebut berkukuh pada putusannya untuk memberlakukan kembali hukuman mati.

Dalam hasil pemungutan suara di DPR soal hukuman mati untuk para penjahat narkoba tersebut, dari total 216 anggota DPR, hanya 54 orang yang menentang kebijakan tersebut. Sisanya sepakat untuk memberlakukan kembali hukuman mati yang selama ini dianggap banyak warga dunia melanggar HAM tersebut.

Dilaporkan, hukuman mati yang akan segera diberlakukan itu, kemungkinan juga akan diterapkan untuk para koruptor dan pelaku kejahatan keuangan lainnya. Namun untuk saat ini, para anggota DPR belum kompak untuk menerapkan hukuman mati terhadap para pelaku kejahatan keuangan. Oleh karena itu, hukuman mati hanya akan diterapkan pada para penjahat narkoba, termasuk penjual dan pembuat.

Soal hukuman mati ini sebenarnya sejak awal tahun ini sudah diprotes sejumlah kalangan. Saat itu, hukuman mati baru diusulkan pihak eksekutif, yakni Presiden Rodrigo Duterte. Mantan wali kota Davao ini menilai hukuman mati akan efektif untuk memerangi kejahatan narkoba.

Namun banyak warga, khususnya dari kelommpok HAM dan agamawan, menentang penerapan hukuman mati. Pasalnya, ini melanggar hak asasi manusia. Dalam artian, kelompok HAM menilai bahwa semua orang berhak untuk hidup dan tak boleh ada seorang pun yang berhak mencabut hak hidup seseorang.***
Bagikan: