Pikiran Rakyat
USD Jual 14.099,00 Beli 14.197,00 | Sedikit awan, 19.8 ° C

Hutan Dibabat, Masa Depan Primata di Dunia Terancam

LONDON, (PR).- Sebuah penelitian menyatakan lebih dari 60 persen populasi kera dan monyet di dunia terancam punah. Masa depan primata seperti kera, monyet, tarsius, lemur, dan kukang semakin terancam karena hutan yang menjadi habitat mereka banyak dibabat.

Dilansir dari Daily Mail, para peneliti mengungkapkan, sebagian besar dari 504 spesies primata di dunia terancam punah. Hampir duapertiga menghadapi kepunahan dan 75 persen dari populasi mengalami penurunan jumlah.

Primata tersebar di Amerika Selatan dan Tengah, Afrika dan Asia, tapi dua pertiga dari spesies yang ditemukan hanya ada di empat negara: Brasil, Madagaskar, Republik Demokratik Kongo, dan Indonesia. Sementara di Eropa, satu-satunya koloni monyet liar terdapat di Gibraltar.

Di Indonesia, penanaman pohon kelapa sawit adalah ancaman khusus untuk primata, sementara di Madagaskar penambangan emas dan batu safir yang mengancam keberadaan habitat primata. Di Nigeria dan Kamerun, pemeriksaan pada 89 pasar ditemukan 150.000 bangkai primata dari 16 spesies yang diperdagangkan setiap tahun sebagai hewan liar.

Dalam penelitian yang dipublikasikan di jurnal Science tersebut menyebutkan, jika penurunan populasi terus terjadi, dunia akan segera menghadapi peristiwa kepunahan besar jika tidak ada tindakan efektif yang segera dilakukan.

Antara tahun 1990 hingga 2010, ekspansi pertanian di habitat primata diperkirakan sekitar 1,5 juta km2—hampir menyamai luas daratan Indonesia seluas 1,9 juta km2.

Penelitian itu pun melaporkan, peningkatan permintaan untuk minyak sawit mengancam orangutan di Sumatera dan Kalimantan serta kera di Afrika, sementara perluasan perkebunan karet di barat daya Cina telah menyebabkan punahnya dua spesies siamang.

"Ancaman kepunahan dari kera dan monyet tidak boleh dianggap enteng, karena primata merupakan bagian penting dari ekosistem,” kata peneliti Anna Nekaris, profesor antropologi di Oxford Brookes University.

Profesor antropologi dari University of Illinois, Paul Garber, yang ikut memimpin penelitian juga mengungkapkan bahwa keberlangsungan hidup primata sedang mendekati akhir. “Dalam kasus siamang Hainan, sebuah spesies kera di Cina, hanya kurang dari 30 ekor yang tersisa. Sayangnya, dalam 25 tahun ke depan, banyak spesies primata akan hilang," ujar Garber.

Berkurangnya populasi disebabkan oleh peningkatan industri pertanian, peternakan skala besar, penebanganhutan, pertambangan, pembangunan bendungan dan konstruksi jalan. Di sisi lain, perburuan secara ilegal untuk diperjual-belikan pun mengakibatkan jumlah primata berkurang. Hanya 'revolusi' yang akan menghentikan kera dan monyet dari kepunahan.

Untuk menghentikan berkurangnya habitat primata secara masif, negara-negara industri harus mengurangi permintaan mereka akan kayu hutan tropis, daging sapi, minyak sawit, kedelai, karet, mineral dan bahan bakar fosil. Selain itu,  yang harus diutamakan adalah pemanfaatan sumber daya yang berkelanjutan. (Faishal Fikri Sriyadi)***

Bagikan: