Pikiran Rakyat
USD Jual 14.603,00 Beli 14.505,00 | Berawan, 24.5 ° C

Membaca Lagi Naik-Turunnya Hubungan Indonesia-Australia

Huminca Sinaga
DUA perenang rintis Taruna Akademi Angkatan Laut (AAL) tingkat III angkatan LXIII Korps Marinir melakukan latihan parameter tempur dalam latihan operasi pendaratan khusus di Halong Mako Lantamal IX, Ambon, Maluku, Minggu 11 Desember 2016 lalu. Latihan tesebut digelar secara gabungan besama sejumlah negar termasuk Australia dan Selandia Baru.*
CANBERRA, (PR).- Penundaan kerja sama militer Indonesia-Australia bukan hanya terjadi kali ini. Sebelum kasus pelesetan Pancasila, Jakarta dan Canberra juga pernah menghentikan kerja sama militer setelah Indonesia dituduh melakukan pelanggaran HAM di Timor Leste pada 1999. Kemudian pada 2002, saat terjadi bom Bali yang menewaskan 88 warga Australia, kerja sama tersebut dilanjutkan.

Namun 11 tahun kemudian atau 2013, kerja sama militer kembali ditangguhkan setelah Lembaga Intelejen Australia (DSD) dilaporkan telah menyadap pembicaraan telefon presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan istri, Ani Yudhoyono, serta sejumlah menteri dalam kabinet SBY tahun 2009 lalu.

Seperti dilansir Reuters, insiden penyadapan yang dilakukan badan intelejen Australia itu terungkap berkat laporan dokumen rahasia yang dibocorkan mantan teknisi komputer CIA, Edward Snowden yang saat ini menetap di Rusia untuk menghindari dakwaan hukum dari pemerintah AS.

Selain SBY, target penyadapan lainnya juga mencakup istri SBY, wakil presiden Boediono, mantan wakil presiden Jusuf Kalla, juru bicara presiden untuk urusan luar negeri yang pada 2009 dipegang Dino Patti Jalal, juru bicara presiden urusan dalam negeri Andi Mallarangeng, mensekneg Hatta Rajasa, menko ekonomi Sri Mulyani Indrawati, menko polkam Widodo Adi Sucipto dan menkominfo Sofyan Djalil.

Dokumen Snowden yang dilansir ABC juga menyebutkan merek ponsel SBY dan pejabat tinggi yang disadap DSD itu. SBY dan istrinya dilaporkan menggunakan ponsel Nokia E90-1, sedangkan Boediono menggunakan Blackberry Bold 9000.

Terungkapnya penyadapan telefon SBY dan lingkaran dalamnya tersebut kemudian memicu ketegangan hubungan Jakarta-Canberra yang berujung dengan penhentian kerja sama militer kedua negara.

Kasus lainnya yang juga sempat memperkeruh hubungan Australia-Indonesi adalah kasus eksekusi hukuman mati tahun 2015 lalu terhadap dua warga Australia yang terjerat kejahatan narkoba. Saat itu, pemimpin Australia, Tony Abbott, menarik duta besarnya untuk mengekspresikan ketidaksenangan Australia.

hubungan tersebut akhirnya bisa dipulihkan awal 2016 tetapi kini ketegangan kembali mewarnai hubungan kedua negara setelah militer Australia menggunakan material pelatihan yang menyinggung Indonesia.

Dave McRae, peneliti dari Asia Institute, Universitas Melbourne, seperti dilaporkan BBC, Kamis 5 Januari 2017 mengatakan bahwa pola hubungan Indonesia-Australia kendati akan terus meningkat, sewaktu-waktu tetap akan ada gejolak seperti yang terjadi pada kasus pemelesetan ideologi Indonesia.

"Meskipun sikap saling curiga itu ada, tetapi selama hampir 20 tahun sejak akhir zaman Suharto, kerja sama antara Australia dan Indonesia cenderung meningkat meskipun ada gejolak-gejolak tadi. Bisa jadi, itu polanya ke depan, bahwa kerja sama meningkat terus di tingkat pemerintah tapi sewaktu-waktu tetap akan ada gejolak seperti yang sering terjadi beberapa tahun terkahir ini," katanya.***
Bagikan: