Pikiran Rakyat
USD Jual 14.540,00 Beli 14.240,00 | Umumnya berawan, 28 ° C

Warga dan Politisi AS Risaukan Kebijakan Donald Trump

Huminca Sinaga
WASHINGTON, (PR).- Kurang dari tiga pekan, kepemimpinan di AS akan berganti dari Presiden Barack Obama kepada presiden terpilih, Donald Trump. Selama masa transisi, tepatnya sejak Trump menang atas Hillary Clinton, pengusaha asal New York tersebut telah membuat sejumlah warga risau.

Pasalnya, pendekatan yang diambil Trump benar-benar berbeda dibandingkan dengan para pemimpin AS sebelumnya, termasuk para presiden AS yang separtai dengan Trump.

Sebagai contoh, terkait Taiwan, sikap dan pernyataan Trump justru bertolak belakang dengan kebijakan luar negeri AS yang mengadopsi politik "Satu Tiongkok".

Dalam wawancaranya dengan Fox News, Trump menyatakan tidak punya alasan mengapa kebijakan "satu Tiongkok" harus tetap dilanjutkan tanpa konsesi berarti dari Beijing.

"Saya tidak tahu mengapa kami harus terikat dengan kebijakan Satu Tiongkok kecuali kami membuat perjanjian dengan Tiongkok yang terkait dengan hal-hal lain termasuk perdagangan," ujar Trump kepada Fox News.

Pernyataannya itu menyiratkan banwa Trump kemungkinan akan mengakhiri kebijakan "satu Tiongkok" yang telah diberlakukan AS sejak 1979.

Ramainya pembiacaraan soal kebijakan ”satu Tiongkok” itu berawal saat Trump menerima panggilan telefon dari pemimpin Taiwan, Tsai Ing-wen. Pembicaraan Trump dan Tsai saat itu memicu kemarahan media Tiongkok dan pemerintah Beijing pun menyampaikan protes resmi.

Pasalnya, selama berpuluh tahun, belum ada presiden atau presiden terpilih dari AS yang pernah berbicara secara langsung dengan pemimpin Taiwan. Pasalnya, mereka berkomitmen dengan kebijakan luar negeri AS yang mengadopsi platform "Satu Tiongkok".

Obama pun, saat memenangi pemilu 2008, ditelefon pemimpin Taiwan, tetapi Obama memilih tak menerima panggilan telefon tersebut.

Trump justru melakukan hal yang sebaliknya dengan langsung menerima secara personal telefon dari pemimpin Taiwan yang pada awal Desember lalu mengucapkan selamat atas kemenangan sang miliuner.

Terkait sikapnya itu, Trump menegaskan, Beijing tidak berhak menentukan apakah dia bisa berbicara dengan pemimpin Taiwan atau tidak.

"Saya tidak ingin Tiongkok mendikte saya dan panggilan telefon itu diserahkan kepada saya. Pembicaraannya sangat bagus. Singkat dan mengapa ada negara yang bisa mengatakan bahwa saya tidak bisa menerima panggilan telefon? Sejujurnya, saya pikir sangat tidak hormat tidak menerimanya," kata Trump.

Selain masalah Tiongkok-Taiwan, warga juga mengkhawatirkan kepemimpinan Trump karena dia kerap memuji Presiden Vladimir Putin. Bahkan, Trump menganggap Putin sebagai sosok heroik karena tak membalas aksi Presiden Barack Obama yang mengusir 35 diplomat Rusia yang diduga terlibat peretasan sistem komputer selama pemilu AS berlangsung.***
Bagikan: