Pikiran Rakyat
USD Jual 14.540,00 Beli 14.240,00 | Umumnya berawan, 28 ° C

Aksi Provokatif Tiongkok Terhadap Taiwan Diduga Terkait Tindakan Trump

Huminca Sinaga

BEIJING, (PR).- Tiongkok menanggapi kemarahan Taiwan dengan santai. Menurut otoritas Beijing, latihan militer yang dilakukannya bersifat internal, bukan latihan militer dengan negara lain. Oleh karena itu, tak perlu minta ijin.

Laporan Reuters, Selasa, 27 Desember 2016 menyebutkan, Tiongkok agak kesal dengan sikap Presiden Terpilih AS Donald Trump yang mau menerima telefon dari Presiden Taiwan. Sikap Trump tersebut bagi Tiongkok telah menyinggung karena Taiwan bukan negara. Namun Trump memperlakukan pemimpin Taiwan seolah kepala negara. Padahal AS selama ini  mengadopsi kebijakan satu Tiongkok.

Untuk diketahui, sejak perang sipil Tiongkok berakhir pada 1949, Taiwan memisahkan diri. Saat itu pemimpin gerakan nasionalis Tiongkok, Chiang Kai-shek, memutuskan berpisah dengan Tiongkok daratan. Oleh karena itu, Chiang merupakan bapak pendiri Taiwan. Sejak berpisah itulah, hubungan Taiwan-Tiongkok tak harmonis.

Tiongkok tak henti mengklaim kedaulatan atas Taiwan sejak 1949, ketika pemerintah nasionalis melarikan diri ke pulau itu setelah kalah oleh komunis.

Namun, pertalian dua negara yang terpisah selat itu membaik sejak  Ma Ying-jeou menjabat sebagai Presiden Taiwan pada 2008.

Namun pemilu 2015 lalu, Ma kalah dan penggantinya adalah Tsai Ing-wen yang sifatnya setipe dengan bapak pendiri Taiwan, Chiang Kai-shek. Bagi Tsai yang merupakan presiden perempuan pertama di Taiwan itu, kemerdekaan negaranya adalah harga mati. Baginya, Taiwan adalah entitas yang berdiri independen, bukan bagian dari Tiongkok sebagaimana diklaim otoritas Beijing.

Soal ketegangan yang terjadi di LTS ini, bukan terjadi kali ini saja. Sepanjang 2016 ini, iongkok terurs-terusan berseteru dengan para pengklaim LTS, seperti Filipina dan Vietnam. Namun baru kali ini Taiwan dan Tiongkok ribut soal latihan perang di LTS. ***

Bagikan: