Pikiran Rakyat
USD Jual 14.006,00 Beli 14.104,00 | Cerah berawan, 27.4 ° C

Abu Jenazah Fidel Castro Diarak 3 Hari Menuju Santiago

Huminca Sinaga
KENDARAAN militer memuat abu jenazah mantan presiden Kuba Fidel Castro saat memulai perjalanan selama tiga hari dari Havana menuju Santiago, Rabu 30 November 2016.*
KENDARAAN militer memuat abu jenazah mantan presiden Kuba Fidel Castro saat memulai perjalanan selama tiga hari dari Havana menuju Santiago, Rabu 30 November 2016.*
HAVANA, (PR).- Pemerintah Kuba, Rabu 30 November 2016, memulai prosesi pemindahan abu jenazah Fidel Castro dari Havana ke tempat peristirahatan terakhirnya di Santiago, yang merupakan tempat lahirnya Revolusi Kuba tahun 1959 lalu.

Seperti dilaporkan Reuters, prosesi itu memakan waktu tiga hari karena abu jenazah akan menempuh perjalanan sepanjang 999 kilometer. Santiago ditetapkan sebagai tempat terakhir fidel Castro beristirahat selamanya karena kota tersebut sangat bersejarah sebagai tempat lahirnya Revolusi Kuba yang dipimpin tokoh revolusioner yang diidolakan banyak pemimpin Afrika dan Asia itu.

Sebelum prosesi itu dimulai, ratusan ribu rakyat Kuba dan sejumlah pemimpin negara sempat berkumpul Alun-alun Revolusi Havana untuk memberikan penghormatan terakhir kepada ”Sang Komandan”.

"Dia telah memenuhi misinya di bumi ini. Hidupnya sangat mencerahkan banyak orang. Ia tak terkalahkan," ujar Presiden Venezuela Nicolas Maduro yang selama ini sangat mengagumi Hugo Chavez dan Fidel Castro.

Setelah prosesi pemindahan abu selesai, proses pemakaman di Santiago pun akan dilakukan pada 4 Desember 2016 mendatang yang akan dihadiri banyak pemimpin dunia.

Seperti diketahui, kehebatan Fidel Castro yang bertahan sendirian dari serangan AS dan tindakan pengucilan lainnya membuat sosoknya sangat dipuja di banyak negara miskin di Amerika Latin, Asia, Afrika, dan Arab.

Bahkan, seperti dilaporkan Yahoo News, pemimpin Libya Muammar Qaddafi punya hubungan yang sangat dekat dengan Fidel Castro dan menganggap Kuba sebagai sekutu.

Keberanian Fidel Castro melawan AS pada era Perang Dingin dan juga pada era sesudahnya membuat banyak pemimpin Asia dan Afrika mengaguminya.

Semasa berkuasa, Fidel Castro mengadopsi model pembangunan ala Marx dan Lenin yang membuat semua warga menerima pelayanan yang sama. Tak ada kaya dan miskin. Sistem pendidikan dan kesehatan di Kuba dipuji banyak negara karena berhasil membuat layanan tersebut gratis.***
Bagikan: