Pikiran Rakyat
USD Jual 14.106,00 Beli 13.806,00 | Sebagian berawan, 21.7 ° C

Berharap Fenomena Trump Bisa terjadi di Prancis

Huminca Sinaga
PEMIMPIN Partai Front Nasional Marine Le Pen berpose di depan poster pencalonan dirinya menjadi Presiden Prancis 2017 di Paris, Prancis, Rabu 16 November 2016.*
PEMIMPIN Partai Front Nasional Marine Le Pen berpose di depan poster pencalonan dirinya menjadi Presiden Prancis 2017 di Paris, Prancis, Rabu 16 November 2016.*
PARIS, (PR).- Kemenangan Donald Trump dalam pemilihan presiden Amerika Serikat 8 November 2016 lalu telah menjadi momentum positif, bukan hanya bagi warga Prancis, melainkan juga dan politisi konservatif dan nasionalis. Para politisi konservatif seperti Nicolas Sarkozy (Partai Republik) dan politisi nasionalis Marine Le Pen (Partai Front Nasional) setelah era Trump kini punya peluang besar untuk memenangi pemilihan presiden April 2017 mendatang.

Bahkan, Le Pen yang merupakan putri politisi ternama Prancis Jean-Marie diprediksi bisa menjadi presiden Prancis setelah era Hollande berakhir, kendati dia akan menghadapi rintangan berat dari rivalnya, capres Partai Republik. Dilansir Reuters, Marine Le Pen (48) mengatakan, ia berharap bisa meniru jejak Trump dalam Pilpres Prancis tahun depan. Jajak pendapat sementara menempatkan Le Pen akan unggul dalam pemilu putaran pertama April tahun depan. Namun, dia diprediksi akan tersingkir pada putaran selanjutnya yang akan berlangsung pada Mei 2017.

"Trump membuat hal yang sebelumnya dianggap mustahil menjadi mungkin... Jika saya bisa menarik paralel fenomena Trump dengan Prancis maka saya berharap di Prancis, rakyat juga bisa membalikkan keadaan," kata Le Pen dikutip Reuters. Sama dengan Trump, Le Pen juga menilai Rusia bukan ancaman. Begitu juga dengan Brexit. Malah Le Pen ingin Prancis juga mengikuti jejak Inggris keluar dari Uni Eropa.

Akan tetapi untuk soal imigran dan ekstremisme, Le Pen dikenal sebagai politikus ideologis bukan pragmatis seperti Trump. Oleh karena itu, jika Le Pen menjadi presiden Prancis, maka ini akan berdampak pada keberadaan para pendatang di sana. Prancis merupakan negara di Eropa dengan jumlah pendatang Muslim terbesar, mencapai 5 juta orang.

Le Pen diprediksi akan menghadapi Sarkozy atau kandidat capres lainnya yang berhasil memenangi pemilihan pendahuluan kubu konservatif, Minggu 20 November 2016. Hasil pemilihan pendahuluan ini baru akan diketahui Minggu malam waktu setempat atau Senin pagi WIB. Ada 7 kandidat capres yang bertarung dalam pemilihan awal Minggu 20 November 2016. Tiga kandidat teratas adalah mantan presiden Prancis Nicolas Sarkozy (61) serta 2 mantan PM Prancis Francois Fillon (62) dan Alain Juppe (72).

Pemenang pemilihan pendahuluan di kubu konservatif ini akan punya peluang untuk menjadi presiden terpilih pada pilpres Prancis dua putaran April-Mei 2017 mendatang. Peluang kubu konservatif memenangi pilpres sangat besar karena banyak warga Prancis tak suka dengan Le Pen yang dinilai rasis. Sama dengan di AS, banyak warga Amerika tak suka dengan Trump, kendati kenyataannya Trump bukan sosok rasis. Istrinya dan banyak karyawannya merupakan para imigran.

Namun Le Pen dan pendukungnya setelah Trump menang, percaya diri bisa menjadi petahana karena melihat jejak Trump, yang dibenci, justru berhasil mengalahkan Clinton. Ada kemungkinan, warga yang sebelumnya mendukung Hollande dan partai petahana akan mengalihkan suara mereka kepada Partai Konservatif, bukan Partai Nasionalis pimpinan Le Pen. Kalau prediksi ini tepat, maka presiden terpilih Prancis Mei 2017 akan berasal dari Partai Republik bukan Partai Nasionalis pimpinan Le Pen.

Besarnya peluang politisi konservatif seperti Sarkozy, Juppe dan Fillon menjadi presiden Prancis karena sebenarnya politik Prancis berbeda dengan AS. Apalagi, sosok Trump dan Le Pen juga sangat berbeda. Selama ini, Le Pen konsisten dengan politik yang berbau "fasisme", sedangkan Trump justru adalah sosok liberal yang "berpura-pura" sebagai konservatif demi memenangi pilpres 8 November 2016 lalu, dengan memainkan isu imigran dan ekstremisme.***
Bagikan: