Pikiran Rakyat
USD Jual 14.048,00 Beli 14.146,00 | Langit umumnya cerah, 22.1 ° C

Buktikan Sehat, Clinton Buka Botol Acar tanpa Alat Bantu

Huminca Sinaga
WASHINGTON, (PR).- Dalam beberapa pekan terakhir ini, Calon Presiden AS Hillary Clinton dan Donald Trump kerap diserang berbagai isu yang menjatuhkan mereka. Dalam hal ini, Hillary juga menghadapi isu negatif terkait skandal surel. Warga AS menuding Clinton telah ceroboh dalam menggunakan surel. Akibatnya, sejumlah kelompok ekstremis mendapatkan informasi rahasia yang seharusnya tak akan bocor, jika Clinton menggunakan layanan email milik pemerintah, bukan pribadi. Kematian sejumlah warga AS di Libia termasuk Dubes AS oleh kelompok ektremis, dituding terkait dengan skandal email.

Mantan menlu AS ini juga dihadang isu negatif soal kesehatannya. Dilansir ABC News, Kamis 25 Agustus 2016, tim kampanye Trump menuding Hillary memiliki penyakit parah setelah sempat jatuh pada 2012 lalu. Karena punya penyakit parah tersebut, Trump menilai Clinton tak akan bisa menjalankan tugas kepresidenan dengan baik. Namun, hasil pemeriksaan kesehatan selama ini menunjukkan bahwa baik Clinton maupun Trump, berada dalam kondisi sehat untuk menjalankan roda pemerintahan, jika salah satu dari mereka memenangi pemilu mendatang.

Clinton sendiri telah membantah semua tudingan yang menyebutkan dirinya sakit parah. Untuk membuktikan tubuhnya fit, Clinton muncul dalam acara televisi yang dibawakan presenter ternama Jimmy Kimmel. Dalam acara yang penuh dengan humor tersebut, Clinton menunjukkan dirinya cukup kuat untuk membuka tutup botol acar. Biasanya sejumlah orang kerap menggunakan lat bantu untuk membuka botol acar, tetapi Clinton membuka itu hanya dengan tangannya, tanpa bantuan alat apapun.

Di pihak lain, Trump dilanda sejumlah isu negatif, seperti kebangkrutan, dugaanya istrinya sempat menjadi migran gelap sebelum akhirnya menjadi warga negara AS. Selain itu, Trump juga dituding sebagai pembohong karena banyak produk buatan perusahaan Trump ternyata bukan dibuat di AS, melainkan didayalihkan ke negara-negara miskin seperti Meksiko dan Indonesia. Laman Buzzfeed, Kamis 25 Agustus 2016 melaporkan bahwa sejumlah produk garmen yang dijual perusahaan Trump ternyata buatan Indonesia dan negara-negara berkembang lainnya.

Sementara Trump dalam kampanyenya selalu berkoar-koar bahwa dirinya cinta produk Amerika dan akan selalu menggunakan tenaga kerja di dalam negeri. Namun kenyataannya, biaya tenaga kerja di dalam negeri yang mahal membuat Trump tak ingin rugi sehingga mengalihkan pekerjaan ke negara-negara miskin yang karyawannya bisa digaji murah.

Seperti diketahui, banyak perusahaan di negara-negara Barat mengalihkan pekerjaan ke negara-negara miskin untuk memaksimalkan keuntungan perusahaan, sesuai dengan prinsip kapitalisme.***
Bagikan: