Pikiran Rakyat
USD Jual 14.273,00 Beli 13.973,00 | Umumnya cerah, 19.1 ° C

Sebagian Besar TKI yang Tertangkap Ingin Kembali ke Sabah

Anwar Effendi
KINABALU, (PR).- Tim Satgas Perlindungan WNI KJRI Kota Kinabalu mendapat tugas untuk pergi ke kota Sandakan, berjarak 356 km ke arah timur Kota Kinabalu. Tim yang dipimpin oleh Hadi Syarifuddin, Minister Counsellor, harus berkendara selama enam jam untuk mencapai lokasi dengan membawa misi penting, yaitu melakukan verifikasi kepada 43 WNI di Pusat Tahanan Sementara Imigrasi (PTS) yang akan dipulangkan ke Indonesia.

Kegiatan verifikasi itu sangat perlu dilakukan sebagai bagian dari proses untuk menerbitkan dokumen perjalanan bagi WNI yang dideportasi pulang ke Indonesia. Tim Satgas harus ekstra hati-hati karena seringkali mendapatkan fakta bahwa banyak WNA yang ditahan di PTS mencoba untuk mendapatkan dokumen Indonesia dengan mengaku-aku sebagai warga negara Indonesia.

Konjen RI Kota Kinabalu, Akhmad DH. Irfan mengatakan bahwa Tim Satgas yang ditugaskan melakukan verifikasi walaupun telah berpengalaman tetapi tetap harus ekstra hati-hati dan teliti. Di PTS banyak sekali yang memiliki niat tidak baik untuk mendapatkan dokumen perjalanan Indonesia dengan segala cara.

“Penghuni PTS itu berasal dari berbagai negara, ada Filipina, Bangladesh, Pakistan, Myanmar, Kamboja, Thailand dllsb yang semuanya pandai berbahasa Melayu dan memiliki ciri fisik yang mirip orang Indonesia. Mereka yang masuk PTS, telah masuk dalam black list Imigrasi sehingga selepas deportasi, terkena cekal untuk masuk kembali ke Malaysia. Motif inilah yang menyebabkan mereka seringkali berusaha mendapatkan dokumen identitas baru untuk dirinya dengan berbagai cara dengan mengaku-aku sebagai WNI. Tetapi Tim Satgas memiliki penangkalnya dengan melakukan verifikasi menggunakan bahasa daerah dan berbagai cara lainnya,” kata Konjen Irfan.

Konjen Irfan menjelaskan mengenai siklus WNI pekerja yang dideportasi. Kata Konjen Irfan : “Semua WNI penghuni PTS pada umumnya adalah pekerja yang tertangkap dan mendapatkan hukuman kurungan Imigrasi dan selepas deportasi pada umumnya ingin kembali lagi ke Sabah dengan berbagai cara, antara lain menggunakan dokumen aspal (asli tapi palsu) ataupun melalui jalur gelap,” imbuh Konjen Irfan.

Hadi Syarifuddin mengatakan hal yang sama dengan apa yang disampaikan oleh Konjen Irfan. Diceritakan oleh Hadi mengisahkan verifikasi dan wawancaranya yang baru saja dilakukannya pada tanggal 21 Juni 2016, dengan tiga WNI perempuan yang akan dideportasi atas nama Rukmini, Hapsari, dan Indah Sawitri. Ketiganya begitu gembira akan dipulangkan ke tempat asal mereka di Bone dan Enrekang pada tanggal 22 Juni, karena sudah lebih 10 tahun tidak pulang. Mereka bersyukur bisa pulang dan merayakan Idulfitri di kampung halaman walaupun harus melalui jalur deportasi. “Tak apalah, sebab kami mengirit biaya jika harus pulang sendiri ke kampong perlu banyak duit,” kata mereka.

Namun jika ditanya apa rencana selanjutnya, dengan tersenyum tanpa malu mereka menyatakan akan berusaha kembali ke Sabah. “Biarpun gaji sikit tapi mudah dapat kerja di sini, beban hidup tidak seberat di kampong, di sini banyak kawan, banyak pula majikan yang mau menggaji pekerja asing pak”. Jawaban terus terang ini membuat Tim Satgas mengelus dada. Nyaris tidak ada yang menanggapi saat ditawarkan ikut program pelatihan kewirausahaan yang ditawarkan BNP2TKI.

Sabah adalah negeri yang menjadi tempat bekerja bagi 500.000 an WNI, umumnya bekerja di ladang sawit yang tersebar di berbagai pelosok. Seringkali para WNI pekerja tersebut berubah status menjadi ilegal karena berpindah majikan tanpa izin, tidak memperpanjang visa, tidak mengurus permit dlsb. Jumlah WNI pada waktu tertentu, antara lain masa panen sawit akan bertambah banyak karena banyak yang masuk tanpa visa kerja walaupun nyatanya mereka bekerja di ladang sawit sebagai pemetik buah sawit selama masa panen.

Imigrasi setempat dan aparat lainnya seperti RELA dan Polisi seringkali mengadakan operasi tangkapan kepada WNA yang tidak memiliki permit kerja atau visa yang sesuai. Mereka yang tertangkap dihukum kurungan di PTS selama beberapa waktu, umumnya 2 bulan dan kemudian dideportasi. KJRI Kota Kinabalu setiap minggu selalu melakukan kegiatan verifikasi kepada mereka yang akan dipulangkan itu dengan jumlah rata-rata antara 50 – 200 orang.***
Bagikan: