Pikiran Rakyat
USD Jual 14.310,00 Beli 14.212,00 | Cerah berawan, 28 ° C

Warga Pedernales Tidur di Jalan

Huminca Sinaga
WARGA berdiri di sekitar puing bangunan yang hancur setelah gempa bumi besar di Manta, Ekuador, Sabtu 16 April 2016 malam waktu setempat.*
WARGA berdiri di sekitar puing bangunan yang hancur setelah gempa bumi besar di Manta, Ekuador, Sabtu 16 April 2016 malam waktu setempat.*
QUITO, (PR).- Wakil Presiden Ekuador Jorge Glas, Minggu 17 April 2016, mengatakan bahwa jumlah korban tewas terbanyak berasal dari sejumlah kota nelayan, seperti Manta, Portoviejo, dan Guayaquil. Lokasi semua kota ini jauh dari ibu kota karena berjarak ratusan kilometer dari Quito, ibu kota Ekuador.

Sementara di kota Pedernales yang berpenduduk 40.000 jiwa yang dekat dengan pusat gempa, seperti dilaporkan Reuters, puluhan warga trauma dan memilih tidur di jalan. Kaum pria di kota itu hanya dengan bermodalkan lampu senter, berusaha mencari korban selamat yang kemungkinan terperangkap dalam puing-puing bangunan.

"Kami berusaha sebaik mungkin untuk mencoba menyelamatkan para korban yang terperangkap dalam reruntuhan," ujar Wali Kota Pedernales Gabriel Alcivar seraya menambahkan bahwa di kotanya itu bukan hanya rumah yang hancur, tetapi hampir seluruh bangunan. "Bukan hanya rumah yang hancur, melainkan hampir seisi kota kolaps," ujarnya.

Seperti diketahui, gempa yang mengguncang negara Andean tersebut merupakan yang terparah sejak 1979. Ini terlihat dari efek destruktif yang ditumbulkan gempa tersebut yang telah menyebabkan banyak bangunan dan jalan layang di negara Andean tersebut rata dengan tanah. Pemerintah Ekudor pun telah menetapkan status darurat, dan belum diketahui samapai kapan itu akan berlaku. Presiden Rafael Correa mengumumkan keadaan darurat saat masih berada di Roma untuk kunjungan kenegaraan. Dia langung mempersingkat kunjungannya dan kembali ke Ekuador.***
Bagikan: