Pikiran Rakyat
USD Jual 14.089,00 Beli 14.187,00 | Umumnya berawan, 19.9 ° C

Sudah Coba Telur Asin Blekok?

Amaliya
TELUR asin burung blekok dikemas sebelum dijual di Kampung Rancabayawak, Kelurahan Cisaranten Kidul, Kecamatan Gedebage, Kota Bandung, Jumat 26 Maret 2016.*
TELUR asin burung blekok dikemas sebelum dijual di Kampung Rancabayawak, Kelurahan Cisaranten Kidul, Kecamatan Gedebage, Kota Bandung, Jumat 26 Maret 2016.*

PRODUK telur asin yang paling terkenal adalah buatan Brebes, Jawa Tengah. Namun, sepertinya telur asin itu sudah biasa. Pernah mencicipi telur asin burung blekok? Jangan salah, ini bukan telur yang dihasilkan oleh burung blekok yang biasa ditemukan di sawah-sawah dan lahan basah. Telur asin blekok diproduksi oleh warga di Kampung Wisata Blekok, tepatnya di RW 2 Kampung Rancabayawak, Kelurahan Cisaranten Kidul, Kecamatan Gedebage, Kota Bandung. Baru sebulan berproduksi, telur asin blekok sudah menarik perhatian. "Telur asin blekok ini tidak keras, kalau dari Brebes keras," ujar perempuan warga RW 2 yang turut memproduksi telur asin blekok, Nana Anggraini. Camat Gedebage, Bambang Sukardi, juga mengakui rasa telur asin blekok berbeda dengan telur asin kebanyakan. Rasanya lebih enak. Barangkali perbedaan rasa itu karena kualitas telur bebek yang juga diproduksi di Kampung Blekok tersebut. Menurut Nana, bebek di kampungnya diliarkan seperti ayam kampung. Hal itu diyakini mempengaruhi rasa dan kualitas telur yang dihasilkan. Dalam pembuatan, telur asin blekok tidak jauh berbeda dengan telur asin lainnya. Telur mentah dibersihkan dan digosok menggunakan amplas. Penggosokan dimaksudkan agar pori-pori cangkang terbuka sehingga memudahkan penyerapan garam. Telur kemudian dimasukkan ke dalam baskom yang telah berisi campuran garam kasar dan abu gosok. Lapisi setiap telor dengan campuran tersebut. Jika menginginkan kuning telurnya seperti madu, maka penyimpanannya sebaiknya sampai 20 hari. Jika menginginkan kuning telur hanya kuning biasa, maka cukup 15 hari disimpan. Begitu penyimpanan selesai, maka telur dibersihkan dan direbus selama 8 jam. ‎Nengsih Siti Sadiyah, seorang perajin telur asin blekok mengatakan, saat ini distribusi telur asin blekok baru di sekitar Gedebage. Dengan produksi 300 butir seminggu, ibu-ibu yang memproduksi secara bersama-sama menjualnya ke kantor-kantor kelurahan dan sekitar sekolah. "Seperti ke SD Cempaka Arum dan sekitar Riung Bandung," ujar Nengsih yang juga istri dari Ketua RW 2, Ujang Safaat. ‎Telur asin blekok bisa bertahan selama satu bulan jika direbus selama 8 jam. Untuk satu telur asin ukuran kecil dijual Rp 3.000, sementara ukuran besar Rp 4.000. Warga Kampung Blekok memang sengaja mulai mencari sumber pendapatan baru sebagai antisipasi kalau-kalau sawah di sekitar mereka benar akan dibetonkan sebagai bagian dalam proyek Bandung Teknopolis. Ketua RW 2 Ujang Safaat mengatakan, warganya kebanyakan petani. Sebagian sudah mulai sambil beternak ‎kambing atau ayam. Namun, jika Bandung Teknopolis direalisasikan, maka mereka sudah siap dikembangkan sebagai kampung wisata. Paling tidak dalam wisata kuliner, mereka sudah punya makanan khas kampung yang makin langka. "Ada cobek cau manggala, opor jantung cau, pais ikan mas kurusuk yang dimasak pakai pawon," kata dia. Hmmm, Anda sudah coba? (Amaliya)***

Bagikan: