Pikiran Rakyat
USD Jual 14.089,00 Beli 14.187,00 | Sebagian berawan, 21 ° C

Inilah Enaknya Es Dawet Mirat yang Juga Unik

Tati Purnawati
SEJUMLAH pedagang es dawet dan cuing asal Desa Mirat, Kecamatan Leuwimunding, Kabupaten Majalengka menyugu es balok di depot es di Mirat, Rabu (17/2/2016). Hampir sebagian besar warga Desa Mirat menggantungkan hidupnya dari jualan es dawet, mereka berkeliling ke sejumlah daerah di luar kota berjualan es dawet menggunakan sepeda angin ataupun sepeda motor.*
SEJUMLAH pedagang es dawet dan cuing asal Desa Mirat, Kecamatan Leuwimunding, Kabupaten Majalengka menyugu es balok di depot es di Mirat, Rabu (17/2/2016). Hampir sebagian besar warga Desa Mirat menggantungkan hidupnya dari jualan es dawet, mereka berkeliling ke sejumlah daerah di luar kota berjualan es dawet menggunakan sepeda angin ataupun sepeda motor.*
MAJALENGKA, (PRLM).- Es dawet di tempat lain mungkin dikenal dengan es cendol. Namun cendol atau dawet yang dibuat warga Desa Mirat, Kecamatan Leuwimunding, Kabupaten Majalengka mungkin berbeda, baik rasa, bahan maupun penampilan keseharian para pedagangnya.

Dawet mirat memiliki keunggulan rasa, harum dan kekenyalan cendol yang sulit disamakan dengan cendol lain. Dawet mirat dibuat berbahan dasar sagu ditambah tepung beras dengan warna hijau dari daun pandan asli atau kadang dibiarkan tanpa pewarna sehingga warnanya keputihan.

Selain itu, penyajiannya ditambah dengan cuing dan santan kental serta gula merah yang juga kental. Cuing ini terbuat dari daun cuing yang diperas kemudian dibiarkan hingga mengental.

Menurut keterangan pedagang dawet, Tarji, Tarjo, Amin dan Emul, dawet mirat telah dikenal sejak puluhan tahun yang lalu dan menjadi konsumsi warga Belanda atau Tionghoa yang bekerja di berbagai industri baik di PG Gula, perkebunan tebu ataupun pedagang yang menjadi pelancong ke daerah tersebut. Sehingga dawet mirat mampu menghidupi ratusan penduduk di desa Mirat, Kecamatan Leuwimunding yang jumlah penduduknya mencapai lebih dari 3.500 orang.

Saat musim kemarau pedagang es dawet dan cuing ini menurut Tarji mencapai lebih dari 500 orang, sementara saat musim hujan jumlah pedagang hanya sekitar 300 orangan.

Mereka ini berjualan menyebar ke berbagai pelosok Majalengka, ada juga yang ke sejumlah daerah di Cirebon, Indramayu, Sumedang dan bahkan perbatasan Majalengka - Subang.

“Kalau musim panen dagang itu keliling ke sawah-sawah, karena di sana pekerja kehausan jadi mangkal di sawah saja,” kata Tarjo.

Cendol atau dawet tersebut sejak jaman dulu menurut para pedagang menjadi ladang usaha warga Desa Mirat, pada masa lalu dawet mirat dijajakan dengan menggunakan pikulan yang khas seperti tempat gula dari gerabah, berupa paso bentuknya bulat. Demikian juga dengan tempat santan dan cuing sebagai paduan cendol.

Kini berjualan cendol tidak lagi dipikul. Sejak tahun 1970, sebagian penjual dawet tidak lagi dipikul namun berubah menggunakan sepeda angin. Belakangan setelah harga sepeda motor terjangkau, sebagian besar pedagang beralih menggunakan sepeda motor.

Amin yang berjualan ke wilayah Palimanan masih menggunakan sepeda, sedangkan Emul dan Tarji yang jualannya menempuh jarak lebih dari 40 km menggunakan sepeda motor.

Dulu es cendol ini tidak pernah ditambah es, hanya cuing, santan kental dan gula merah, sekarang mulai ditambah es parut yang dicampur santan kental. Bahkan ada di antara pedagang yang menambah bubur sumsum.

“Apalagi kalau di tempat hajatan biasanya ada yang minta di tambah bubur sumsum selain dawet dan cuing,” kata Tarji.

Soal harga cuing dan cendol Mirat ini sangat murah berbeda dengan dawet ayu atau cendol elizabeth, satu mangkuk cendol dan cuing mirat hanya seharga Rp 1.000 hingga Rp 1.500 per mangkuk. Harga sebesar itu cukup kenyang karena porsinya lumayan banyak.

Saat ini para pedagang es menurut mereka tinggal generasi tua, karena anak-anak muda lebih memilih berdagang pakaian ke Bali, NTB atau bekerja di berbagai industri di kota.

“Anak-anak saya tidak ada yang mau berjualan cendol semua pergi ke Bali berjualan pakaian di sana. Keponakan juga demikian mereka tinggal di Bali,” kata Tarji.

Sebagian lagi memilih menjadi pekerja di dindustri gordyn karena di Kecamatan Leuwimunding banyak masyarakatnya yang memiliki industri konfeksi untuk dijual ke luar Pulau Jawa. (Tati P-Kabar Cirebon/A-88)***
Bagikan: