Menjadi Ayah

- 13 November 2020, 19:28 WIB
Ilustrasi - Selamat Hari Ayah Nasional 2020. /PEXELS/Pixabay

PIKIRAN RAKYAT - Ayah ada karena anak. Beberapa teman dari Kanekes dikenal oleh lingkungan sekitar lewat nama anak masing-masing. Almarhum Pak Salim, misalnya, dikenal sebagai Ayah Yaman, sebagaimana Mang Acin suka disapa sebagai Ayah Samin. 

Saya sendiri kerap dipanggil sebagai Ayah Gilang oleh beberapa anak lelaki di sekitar rumah kami di Bandung

Sahabat saya Julian memasang potret anaknya, Joseph, pada pintu kulkas. 

“Pada anak saya ada sesuatu yang tidak ada pada saya,” katanya suatu hari waktu kami mengobrol sambil masak di dapur. Di ruangan kerjanya, di kampus, saya lihat sejumlah gambar karya Dewi, adik Joseph, memenuhi dinding seperti isi galeri. 

Baca Juga: Indonesia Terbuka atas Kandidat Vaksin, Wiku: Perkembangan Uji Klinis Berbagai Negara Terus Dipantau

Sudah 24 tahun saya jadi ayah. Pada hari pertama peran itu timbul ada semacam tuntutan untuk berubah. Saya mulai menyadari arti orang tua: orang yang sudah tua, orang yang dituakan oleh keluarga, barangkali semacam tetua di lingkungan masyarakat adat. 

Tentu saja, anakmu bukan milikmu, apalagi milik Khalil Gibran. Yang pasti, dalam istilah Arab, setiap individu adalah ibnu, anak Si Anu, dan hal itu tidak akan terpupus oleh waktu. Sampai ke liang kubur tiap-tiap orang disebutkan sebagai bin ini atau binti itu. Individu lahir dari rahim ibu, lalu ditempatkan dalam genealogi ayah.  

Itulah yang membuat saya kadang ngeri sendiri. Kasihan amat anak-anak saya sekiranya saya membiarkan diri jadi orang buruk di muka bumi. Nama saya bakal melekat pada nama mereka, seakan-akan mereka mesti menanggung aib seumur-umur. Amit-amit. 

Baca Juga: Jawab Tudingan Jadi Pria di Video Syur Mirip Gisel, Adhietya Mukti Tunjukkan Posisi Tahi Lalat

Sejak kelahiran anak, ayah jadi heroik. Saya tidak lagi takut mati. Kalaupun saya mati, cerita toh akan diteruskan oleh anak-anak saya. Matahari terbit ayah bangun, pergi pagi pulang petang, beli martabak telur kalau sedang ada uang. Jika ayah adalah masa lalu buat anak, anak adalah masa depan buat ayah.  

Halaman:

Editor: Gita Pratiwi


Tags

Komentar

Artikel Rekomendasi

Artikel Terkait

Terkini

Diego Maradona, Puncak Duka 2020

26 November 2020, 09:19 WIB

Arema yang Mana

16 November 2020, 15:14 WIB

Menjadi Ayah

13 November 2020, 19:28 WIB

Pertaruhan Nyawa Bulu Tangkis

4 November 2020, 12:08 WIB

Pikiran Jurnalis

25 Oktober 2020, 17:43 WIB

Sekarang KPK sudah Menjadi Biasa Saja

21 Oktober 2020, 09:58 WIB

Membaca Bandung

14 Oktober 2020, 08:31 WIB

Seni Mengarungi Ombak

3 Oktober 2020, 07:40 WIB

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X