Membaca Bandung

- 14 Oktober 2020, 08:31 WIB
Cover buku Jejak-jejak Bandung karya Atep Kurnia. /Dok. ProPublic Info

PIKIRAN RAKYAT - Bandung adalah kota yang hadir dalam dokumen tapi tidak selalu sanggup merawat monumen. Cerita Bandung masih dapat disimak melalui guntingan koran, majalah, brosur turisme, film, dan terutama buku

Adapun hal-ihwal yang muncul di atas lanskap cepat lenyap, sebab kota baru suka merobek kota lama. Kuburan jadi mal, pohon-pohon palem jadi jalan layang, dan toponimi bergonta-ganti. 

Buku “Jejak-jejak Bandung” (2020) karya Atep Kurnia adalah contoh yang baik tentang kota yang awet dalam bahasa. Dalam kasus Bandung, bahasa yang memuat riwayat kota terutama adalah bahasa Sunda dari karuhun, bahasa Belanda dari Laut Utara, dan bahasa Indonesia dari “zaman bergerak”. 

Baca Juga: Purnawirawan Jenderal Sebut Ada Kelompok LGBT di Tubuh TNI-Polri: Dipimpin Sersan Anggotanya Letkol

Pusparagam bahasa itulah yang diandalkan oleh penulis yang amat prolific ini buat mengunjungi sejarah kota yang lanskap sehari-harinya sesungguhnya sudah berbeda.

Atep adalah penduduk Bandung paruh waktu, dan karena itu ia sebetulnya penduduk Cikancung paruh waktu pula. Memang, Cikancung termasuk Bandung juga, terutama jika Anda mengabaikan perbedaan administrasi “kabupaten” dari “kota”. 

Namun, bagi Atep, Cikancung berbeda dari Bandung. Yang satu tempat berdiam, bersama anak dan istri, sedang yang lain tempat bekerja, bersama kolega dan kasir. 

Baca Juga: Ridwan Kamil akan Mewajibkan Restoran, Cafe dan Kantor Gunakan QR Code untuk Atasi Pandemi Covid-19

Atep adalah bagian dari kelimun yang berulang-alik di sepanjang rel kereta, semacam kisah tentang dua ruang. Namun, ia berbeda dari kebanyakan orang sebab di dalam tas punggungnya ada buku, bukan untuk dibaca semata, melainkan juga untuk dijadikan landasan kiprahnya di tengah masyarakat. Ia melihat dirinya sebagai bagian dari ikhtiar kolektif buat menggiatkan literasi

Ada terasa ia masih memelihara perbedaan antara kampung dan kota. Dalam prolog koleksi esai ini Atep mengidentifikasi dirinya sebagai Rusdi, protagonis serial bacaan anak sekolah di Tatar Sunda dari permulaan abad ke-20. Ia menyebut dirinya “Rusdi dari Cikancung”, anak desa yang berangkat ke kota dengan mata terbuka. 

Halaman:

Editor: Gita Pratiwi


Tags

Komentar

Artikel Rekomendasi

Artikel Terkait

Terkini

Pikiran Jurnalis

25 Oktober 2020, 17:43 WIB

Sekarang KPK sudah Menjadi Biasa Saja

21 Oktober 2020, 09:58 WIB

Membaca Bandung

14 Oktober 2020, 08:31 WIB

Seni Mengarungi Ombak

3 Oktober 2020, 07:40 WIB

Sepak Bola Membunuh Kita

28 September 2020, 11:04 WIB

Wabah menurut Dokter Cipto

24 September 2020, 07:19 WIB

Marketing Odading

20 September 2020, 13:21 WIB

Selisik Jurnalistik

17 September 2020, 06:00 WIB

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X