Tak Perlu Bicara Isi Omnibus Law Cipta Kerja jika Proses Pembentukannya pun Bermasalah

- 13 Oktober 2020, 11:00 WIB
SEJUMLAH pengunjuk rasa yang terdiri dari mahasiswa dari sejumlah universitas, bersalamam dengan petugas blokade dari satuan Brimob Polda Jabar usai berunjuk rasa terkait Undang-undang Cipta Kerja (Omnibuslaw) di jalan simpang Cileunyi, Kabupaten Bandung, Kamis (8/10/2020). Penolakan terhadap pengesahan UU tersebut terus dikumandangkan di sejumlah daerah di Indonesia. /ADE MAMAD SAM/"PR"

PIKIRAN RAKYAT - Tulisan singkat ini takkan membahas substansi Omnibus Law Cipta Kerja, yang tengah marak dibahas belakangan ini.

Namun, sekadar memberi gambaran hasil pengamatan tentang peranan demokrasi dalam kehidupan bernegara kita.

Semu

Bertolak dari pemahaman paling sederhana yang diajarkan di Sekolah Dasar (SD) tentang demokrasi, bahwa demokrasi adalah tentang kedaulatan di tangan rakyat, bahwa pemerintahan diselenggarakan dari, oleh, dan untuk rakyat. 

 Baca Juga: PTUN Bandung Kabulkan Gugatan Surat Pencabutan Asimilasi yang Diajukan Kuasa Hukum Habib Bahar

Maka memang rakyat adalah aktor utama dalam dinamika bernegara di negara demokrasi, bukan keluarga kerajaan, dinasti tertentu apalagi sekelompok orang yang berkuasa.

Sehingga ketika rakyat gusar dan marah hingga berdemo, terlepas dari perbedaan pemahaman dan ketidakmengertian terkait omnibus law Cipta Kerja. Tentunya aksi rakyat ini haruslah dianggap sebagai suatu hal yang serius dan tidak sepele, karena aksi dilakukan oleh para aktor utama pemegang kedaulatan negara ini. 

Sekali lagi debat tentang apakah para pendemo sudah membaca seluruh isi UU dan memahaminya tidaklah terlalu penting, karena sejatinya yang harus memahami detail dan menguasai adalah para pembentuk regulasi. 

 Baca Juga: Sinopsis Film Precious Cargo, Aksi Bruce Willis Buru Permata Langka

Rakyat hanya perlu memiliki alasan terkait satu pasal saja yang dianggap tidak sesuai dengan hak konstitusionalnya sebagai warga negara, untuk menyatakan protes  dan berekspresi melalui demonstrasi. 

Halaman:

Editor: Gita Pratiwi


Tags

Komentar

Artikel Rekomendasi

Artikel Terkait

Terkini

Pikiran Jurnalis

25 Oktober 2020, 17:43 WIB

Sekarang KPK sudah Menjadi Biasa Saja

21 Oktober 2020, 09:58 WIB

Membaca Bandung

14 Oktober 2020, 08:31 WIB

Seni Mengarungi Ombak

3 Oktober 2020, 07:40 WIB

Sepak Bola Membunuh Kita

28 September 2020, 11:04 WIB

Wabah menurut Dokter Cipto

24 September 2020, 07:19 WIB

Marketing Odading

20 September 2020, 13:21 WIB

Selisik Jurnalistik

17 September 2020, 06:00 WIB

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X