Lukisan Politisi

- 6 Agustus 2020, 06:25 WIB
Lukisan Isa.* /Hawe Setiawan

PIKIRAN RAKYAT - Seorang politisi, anggota parlemen daerah, kiranya membayangkan sebuah panorama: di bawah naungan langit biru, gunung dan bukit menjulang, sawah terhampar, dan para petani memetik padi. Agar apa yang dia bayangkan hadir dalam pandangan, sang anggota Dewan memesan lukisan kepada seniman Isa Perkasa.

Isa menyanggupinya meski tidak biasa. Dalam perjalanan kariernya sebagai perupa selama ini tidak pernah dia membuat lukisan pemandangan alam. Lazimnya, lukisan dan gambar (drawing) yang dia ciptakan memperlihatkan bola dunia yang memanas di atas kompor minyak tanah, bohlam yang menyala di dalam batok kepala, tikus-tikus berpakaian dinas, dan semacam itu. 

Kali ini situasinya memang istimewa. Virus corona bertebaran di muka bumi. Semua orang takut mati dan harus mengurung diri. Bandung jadi sepi. Di musim karantina, tentu, dosen luar biasa di bidang seni rupa tidak boleh ke mana-mana, dan boleh jadi bahkan terancam PHK. Terobosan harus diupayakan, peluang mesti disambut. Dan melukis panorama? Kenapa tidak?

Baca Juga: Cara Membuka Kunci Ponsel Jika Lupa PIN, Password dan Kata Sandi

Sebetulnya, sejak timbulnya pandemi, terutama selama ada pembatasan ruang gerak orang banyak, Isa jadi lebih sibuk dari biasanya. Ketika banyak orang kelimpungan mencari masker, dia segera ambil tindakan.

Dia membeli lembaran kain dan memanfaatkan potongan kain yang kebetulan ada di rumahnya. Dengan mendesain dan menjahit sendiri, dia membuat puluhan masker berwarna merah putih seperti bendera Republik Indonesia dan beberapa masker bermotifkan kepulauan di Nusantara. Dia bagikan hasil kreativitasnya kepada orang-orang di sekitarnya. Saya sendiri mendapat bagian.

Di studionya yang sempit, di lantai dua rumahnya yang terletak tepat di belakang Masjid Al-Amanah, di samping terminal Ledeng, Bandung, dia melukis dan menggambar jauh lebih produktif dari biasanya. Mulai dari lukisan-lukisan cat minyak di atas kanvas hingga gambar-gambar arang di atas kertas, lahir bertubi-tubi selama pandemi. Ada 10 lukisan dan 20 drawing yang lahir dalam lima bulan terakhir.

Baca Juga: Tanpa Lipstik, Simak 7 Cara Buat Bibir Pink Alami dan Sehat

Bersama teman-temannya sesama penggagas Institut Drawing Bandung (IDB), wadah para pencinta drawing, Isa mengadakan pameran daring pula. Sejumlah seniman mengirimkan potret karya. Potret-ptret itu dikumpulkan dalam katalog, lalu disebarluarkan melalui media sosial dan surat elektronik ke berbagai pihak. Pameran bertajuk “Dari Seniman untuk Seniman”, 21 Mei hingga 12 Juni lalu itu, ditujukan buat mengumpulkan dana untuk mengatasi kesulitan seniman dalam urusan sembako.

Halaman:

Editor: Abdul Muhaemin


Tags

Komentar

Artikel Terkait

Terkini

Wabah menurut Dokter Cipto

24 September 2020, 07:19 WIB

Marketing Odading

20 September 2020, 13:21 WIB

Selisik Jurnalistik

17 September 2020, 06:00 WIB

Iman ke Selokan

11 September 2020, 05:51 WIB

‘Anjay’ di Tribun Stadion

6 September 2020, 20:54 WIB

Buku Paman Tom

3 September 2020, 06:00 WIB

Ajat Sudrajat 'Bad Boy' from Bandung

30 Agustus 2020, 12:12 WIB

Narasi Gunung

27 Agustus 2020, 10:18 WIB

Karaoke dan Prostitusi

23 Agustus 2020, 12:16 WIB

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X