Kisah Tiga Indonesia

- 23 Juli 2020, 06:05 WIB
Cerpen Sunda karya I. Asikin (1920-1987).*
Cerpen Sunda karya I. Asikin (1920-1987).* /

PIKIRAN RAKYAT - Membaca kumpulan cerpen kiranya tidak usah berurutan, apalagi kalau kita tidak tahu pertimbangan yang melandasi susunan cerpen yang dibukukan. Setidaknya, begitulah yang saya lakukan sewaktu membaca Moal Dimumurah (Tahan Harga), kumpulan cerpen Sunda karya I. Asikin (1920-1987).

Patokan saya adalah data diri pengarangnya. Berasal dari Ciparay, di selatan Bandung, ia menulis sejak zaman Belanda, jadi Heiho pada zaman Jepang, jadi guru sekolah pada zaman merdeka sebelum jadi redaktur majalah. Karangannya mengisi halaman Parahiangan, mingguan berbahasa Sunda terbitan Volkslectuur pada zaman kolonial hingga halaman Manglé, mingguan berbahasa Sunda yang terbit sejak 1950-an.

Saya pikir, itu biografi menarik. Saya pun jadi penasaran, sejauh mana peralihan zaman tercermin dalam rangkaian karangan. Itu sebabnya, saya membaca buku ini secara kronologis, dimulai dengan cerpen-cerpen yang berlatarkan zaman Belanda. Susunan buku ini sendiri tidak demikian. Cerpen yang ditaruh pada urutan pertama, yang judulnya dijadikan judul buku, misalnya, berlatarkan zaman Jepang

Baca Juga: Duduk Beristirahat di Depan Musala Bersama Rekannya, Muslim Dibacok dan Ditembak 2 Orang Tak Dikenal

Kalau kita membaca buku ini secara kronologis, berdasarkan latar historis yang melingkungi setiap cerita, dapatlah kita simak gambaran tiga zaman, yakni zaman Belanda, zaman Jepang, dan -katakanlah- zaman Republik. Zaman yang disebutkan belakangan, sebetulnya, bisa diperinci lebih lanjut, misalnya zaman ketika republik masih muda dan zaman ketika republik sudah lama merdeka. Buat saya sendiri, tiga zaman tadi cukuplah.

Zaman Belanda: Kopi dan Koloni

Salah satu cerpen yang berlatarkan zaman kolonial berjudul, “Lumpuhna Juragan Aria” (Lumpuhnya Juragan Aria). Ceritanya tentang sepak-terjang seorang priayi kecil yang, tentu saja, mengabdi kepada bupati dan menyusahkan rakyat.

Ternak rakyat dia minta sesuka hati dengan mengatasnamakan bupati, dan tidak semua rampasan dia setorkan kepada atasan. Terhadap gadis remaja, anak bawahannya sendiri, dia mau menggagahi. Diam-diam, tanpa sepengetahuan atasannya sendiri, dia punya gudang kopi.

Baca Juga: Survei Charta Politika, Ridwan Kamil Kepala Daerah Berkinerja Terbaik dalam Penanganan Covid-19

Halaman:

Editor: Abdul Muhaemin


Tags

Artikel Terkait

Terkini

Dian Purnama Alam

24 Januari 2021, 14:41 WIB

Prostitusi di Apartemen

24 Desember 2020, 13:56 WIB

Quo Vadis Olahraga Profesional Indonesia

7 Desember 2020, 08:38 WIB

Diego Maradona, Puncak Duka 2020

26 November 2020, 09:19 WIB

Arema yang Mana

16 November 2020, 15:14 WIB

Menjadi Ayah

13 November 2020, 19:28 WIB

Pertaruhan Nyawa Bulu Tangkis

4 November 2020, 12:08 WIB

Pikiran Jurnalis

25 Oktober 2020, 17:43 WIB

Sekarang KPK sudah Menjadi Biasa Saja

21 Oktober 2020, 09:58 WIB

Membaca Bandung

14 Oktober 2020, 08:31 WIB

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X