KLB Campak Muncul Lagi usai Covid-19, Mari Gencarkan Imunisasi

- 24 Januari 2023, 09:45 WIB
Ilustrasi campak.
Ilustrasi campak. /Pikiran Rakyat/Fian Afandi

PIKIRAN RAKYAT – Kementerian Kesehatan menyatakan, KLB campak di Indonesia hingga Desember 2022 di 31 Provinsi. Ada lebih dari 3.000 kasus tepatnya 3.341 kasus campak sepanjang 2022 yang tersebar di 31 provinsi tersebut.

Padahal seperti diketahui, campak adalah salah satu penyakit yang sangat bisa dicegah melalui pemberian imunisasi. Bahkan campak masuk dalam daftar imunisasi dasar yang wajib diberikan kepada setiap anak di Indonesia.

Namun kemunculan KLB campak ini patut dicurigai sebagai salah satu dampak dari pandemi Covid-19 yang membuat pemberian imunisasi bagi anak-anak tertunda. Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2022 menunjukkan baru 63,17 persen anak Indonesia yang berusia 12-23 bulan yang menerima imunisasi dasar lengkap (IDL). Angka tersebut hanya naik 2,08 persen dibandingkan tingkat imunisasi pada 2021 yakni 61,09 persen.

Hal ini juga sejalan dengan pendapat sejumlah ahli kesehatan yang menyatakan proses imunisasi dasar bagi bayi dan balita sempat “terdisrupsi” selama pandemi akibat tenaga kesehatan yang kewalahan menangani banyaknya kasus Covid-19. Karena pandemi, sejumlah orangtua juga memilih untuk menunda pemberian imunisasi bagi anak-anaknya.

Baca Juga: Campak jadi KLB, Dinkes Jabar Dorong Imunisasi Lengkap

Masih berdasar data BPS, Aceh menjadi provinsi dengan persentase anak yang menerima Imunisasi Dasar Lengkap (IDL) paling rendah di Indonesia yakni 22,52 persen. Tak heran, KLB polio yang terjadi pada November 2022 lalu terjadi di Aceh. Menyusul kemudian Sumatra Barat dan Sumatra Utara dengan masing-masing persentase IDL sebesar 39,25 persen dan 42,44 persen.

Sementara daerah dengan capaian IDL tertinggi di Indonesia tercatat Daerah Istimewa Yogyakarta dengan persentase IDL mencapai 83,89 persen. Berikutnya yakni Bali dengan persentase penerima IDL sebesar 82,22 persen.

Masih berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan, Indonesia mengalami penurunan cakupan imunisasi dasar dari tahun 2020 hingga 2021 dengan gap sekitar 9 persen. Dengan persentase tersebut ada sekitar 1,7 juta anak di Indonesia yang tidak mendapat imunisasi sejak 3 tahun terakhir.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmidi mengungkapkan pemerintah sudah berupaya mengejar imunisasi dasar yang tertinggal akibat pandemi dengan mengadakan bulan imunisasi bagi anak. Bahkan, bulan imunisasi tersebut sempat diperpanjang hingga dua kali agar dapat memenuhi target cakupan imunisasi di semua daerah.

Halaman:

Editor: Akhmad Jauhari


Tags

Artikel Pilihan


Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

x