Sudah Berkali-kali Pemilu, Modal Gagasan Justru jadi Bekal Kampanye yang Terlupakan

- 9 Januari 2023, 14:14 WIB
Ilustrasi kampanye pemilu yang minim mengungkapkan gagasan.
Ilustrasi kampanye pemilu yang minim mengungkapkan gagasan. /Pixabay/succo

PIKIRAN RAKYAT – Memasuki tahun 2023, mesin parpol sudah mulai dihidupkan. Aktivitas internal partai lebih meningkat. Opini publik pun digiring ke arah pemilu dan pilpres tahun depan.

Pimpinan parpol terlibat langsung dalam berbagai kegiatan, khususnya menyampaikan materi kampanye bagi kader-kadernya.

Karena segala kegiatan tersebut berurusan dengan kenegaraan, pada tempatnyalah kalau berbagai pihak menyimak dengan serius segala apa yang telah menjadi pesan para negarawan sebelumnya. Mereka dengan segala upayanya meninggalkan jejak yang akan terus membekas dalam perjalanan bangsa ini.

Jejak yang ditinggalkan Bung Karno dan Bung Hatta, dengan segala kontroversinya, merupakan modal dasar bangsa ini menempuh periode awal kemerdekaan yang penuh guncangan. Dapat kita maklumi kalau gesekan pemikiran di antara mereka cukup tajam. Meski demikian, tujuannya sama, berupaya agar bangsa ini bukan sebatas berdaulat tetapi juga bermartabat.

Baca Juga: Penilaian Akademisi hingga Pengamat Politik Soal Wacana Sistem Proporsional Tertutup di Pemilu 2024

Bila dibanding dengan pemikiran Bung Hatta, pemikiran Bung Karno terkesan utopis. Konsepnya tentang manipol, yang tidak pernah diberlakukan di bagian dunia mana pun, menegaskan pemikirannya tersebut. Sementara Bung Hatta lebih pragmatis. Pemikirannya mendasar meski gaungnya kurang bergema.

Soeharto yang mengambil alih kekuasaan dari tangan Bung Karno, menempuh pola yang lebih realistis. Pembangunan lebih diutamakan, konsekuensinya membangun kemitraan dengan negara lain. Investasi merupakan salah satu kebijakan andalannya. Agar pembangunan berjalan baik, koridor kebebasan sangat dipersempit. Yang namanya kebebasan pers termasuk sesuatu yang menjadi impian.

Kendati sejak awal jargon demokrasi sering disebut, sepanjang setengah abad masa awal kemerdekaan, praktiknya masih sangat terbatas. Adalah sosok Habibie yang memecahkan tempurung demokrasi tersebut. Kebebasan pers diwujudkan. Tatanan demokrasi mulai dipetakan. Meskipun jabatan kekuasaannya sangat pendek, jejak yang dilakukan Habibie saat itu merupakan pesan yang masih layak menjadi bahan pemikiran.

Abdurrahman Wahid menjalankan kepemimpinan nasional dalam suasana yang cukup gemuruh. Di tengah suasana politik seperti itu, Gus Dur tetap berusaha membuat terobosan. Tabu politik yang sebelumnya berlaku, dia batalkan.

Halaman:

Editor: Akhmad Jauhari


Tags

Artikel Pilihan


Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

x