PUI: Meneguhkan Jati Diri, Dakwah Politik, dan Kebangsaan

- 9 Januari 2023, 13:32 WIB
Ilustrasi politik.
Ilustrasi politik. /Pixabay/Wokandapix

PIKIRAN RAKYAT - Islam merupakan agama yang diridai Allah SWT. Islam memiliki pengertian berserah diri kepada Allah dengan menauhidkan-Nya dan tunduk kepada Allah dengan melaksanakan ketaatan kepada-Nya.

Perkembangan Islam ditandai oleh munculnya fenomena menguatnya religiusitas umat Islam dan munculnya aktor gerakan Islam baru yakni Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) yang dibentuk oleh masyarakat secara sukarela berdasarkan kesamaan aspirasi, kehendak, kebutuhan, dan kegiatan.

Setiap organisasinya memiliki ideologi, pemikiran, dan strategi gerakan berbeda-beda. Pada awalnya ada hanya NU dan Muhammadiyah, lalu ada organisasi lain dengan tujuan menengahi antara NU dan Muhammadiyah yaitu PUI (Perserikatan Umat Islam). Ormas ini pun merupakan gabungan antara Perserikatan Umat Islam pimpinan Abdoel Halim dan Persatuan Umat Islam Indonesia pimpinan KH Ahmad Sanusi. 

PUI: Perspektif Sejarah

Baca Juga: Pemuda PUI Minta Pemuda Terlibat Dalam Solusi Pandemi Bukan Polarisasi

Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki organisasi Islam besar yang berkembang luas. Salah satu Organisasi Kemasyarakatan besar di Indonesia adalah PUI. PUI adalah organisasi yang lahir pada 5 April 1952 di Bogor yang berpusat di jalan Pancoran Barat II Jakarta Selatan. PUI lahir sebagai hasil fusi (penyatuan) dua organisasi besar yaitu Perikatan Umat Islam (PUI) yang dipimpin oleh KH Abdul Halim yang berpusat di Majalengka, dengan PersatuanUmat Islam Indonesia (PUII) yang dipimpin oleh KH Ahmad Sanusi yang berpusat di Sukabumi yang mengalami pasang surut dan perubahan nama.

Pada pandangan Nurhasan Zaidi, paling tidak ada tiga fenomena yang menarik dari fusinya dua organisasi ini. Ada blessing indisguese yang bisa diambil, Pertama: fusi PUI di Bogor tahun 1952 bersamaan pada saat itu umat Islam mengalami ujian polemik panjang—antara tokoh Islam dan nasionalis—yang nyaris menjadikan disintegrasi bangsa. PUI ketika itu justru mengambil peran yang cerdas dengan menyatukan kedua ormas Islam—POI dan PUII—yang sejalan dengan semangat Rasulullah untuk menyatukan kaum Muhajirin dan Anshor.
.
Kedua: fusi PUI terinspirasi oleh semangat Pan Islaminya Jamaluddin al-Afghani di dunia Islam untuk menyatukan umat Islam. Ketiga, pilihan nama Persatuan Umat Islam (PUI) mengilustrasikan the founding father PUI memiliki cita-cita besar terhadap persatuan umat Islam. Demikian pula dengan rumusan intisab dan islahu al-tsamaniyyah yang mencerminkan keuniversalan cita-cita perjuangan PUI.  

Pada zaman kolonial, KH Abdul Halim merupakan salah satu tokoh yang berperan aktif sebagai anggota BPUPKI. Beliau berupaya mengaktifkan Perserikatan Oelama yang kemudian dikabulkan pada tangga 1 Februari dan kemudian mengubah namanya menjadi Perikatan Oemat Islam, oleh karena itu beliau mendapat gelar sebagai pahlawan Indonesia. Menurut sejarahnya, para pemimpin dari organisasi PUI, NU, dan Muhammadiyyah memiliki persamaan yaitu background pendidikannya. Masing-masing dari tokoh tersebut sama–sama menuntut ilmu di Mekkah bahkan selama mereka menuntut ilmu, Abdul Halim banyak bergaul dengan KH Mas Mansur yang kelak menjadi Ketua Umum Muhammadiyah dan KH Abdul Wahab Hasbullah yang merupakan salah seorang pendiri Nahdlatul Ulama.

Baca Juga: Bhinneka Tunggal Ika dan Konflik Sosial

Organisasi Kemasyarakatan PUI memiliki dasar lambang yang disahkan berdasarkan Surat Keputusan Pengurus Besar PUI Nomor 03/PB/VII/1983 dengan bentuk, warna, dan bagian isi lambang sebagai berikut: Pertama, bentuknya bulat yang berarti kebulatan tekad dan akidah yang tercermin dalam intisab PUI: Kedua, tali yang melingkar tidak berujung memperlambangkan persatuan yang teguh dan persaudaraan yang erat, tidak mudah diceraiberaikan:

Halaman:

Editor: Akhmad Jauhari


Tags

Artikel Pilihan


Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

x