Mengganggu tapi Perlu

- 16 Juli 2020, 07:17 WIB
/Dok. Hawe Setiawan

PIKIRAN RAKYAT - Sejauh yang tertangkap oleh perasaan saya, yang belum tentu benar, kritik Ajip Rosidi (AR) di lingkungan sastra Sunda adalah gangguan yang diperlukan. Orang mungkin tidak senang, bahkan tidak mustahil terguncang, mendapat kritik dari AR tapi kritiknya tidak bisa diabaikan. Lagi pula, AR sanggup melakukan apa yang dia tulis selain menulis tentang apa yang dia lakukan.  

Alhamdulillah, sekarang saya bisa memeriksa perasaan saya sendiri karena telah terbit Renaisans Sunda: Fungsi Sosial Kritik Sastra Sunda Ajip Rosidi (2020) karya Teddi Muhtadin, ahli sastra Sunda dari Unpad juga penyair dan esais. Dalam buku 96 halaman ini Teddi mengevaluasi tulisan-tulisan AR yang tergolong ke dalam kritik sastra dan ditulis dalam bahasa Sunda. Jadi, buku ini berisi kritik atas kritik atau tulisan tentang tulisan.

Setahu saya, karya Teddi ini adalah buku pertama dalam bahasa Indonesia yang membahas kritik sastra Sunda AR. Telaah ilmiah ini semula merupakan tesis yang dipertahankan di UGM. Datanya adalah tulisan-tulisan AR sejak dasawarsa 1950-an, mengenai karya sastra atau pengarangnya, yang pernah dimuat dalam koran dan majalah sebelum dihimpun dalam beberapa bungarampai.

Baca Juga: Mudah dan Cepat, Begini Cara Bayar Pajak Kendaraan di Indomaret, Alfamart Hingga Kantor Pos

Koran dan majalah tempat AR mengumumkan kritiknya dilihat oleh Teddi sebagai bagian dari “ranah publik”. Itulah ranah tempat orang membentuk “opini publik”. Dari koran dan majalah Sunda, khususnya yang terbit pada 1950-an dan 1960-an, peneliti mengidentifikasi pokok pikiran kolektif yang pada dasarnya prihatin atas “keterpurukan orang Sunda” di sektor politik, ekonomi, dan kebudayaan. 

loading...

Oleh peneliti, kritik sastra Sunda AR dikaitkan dengan “substansi” pembicaraan di “ranah publik” tersebut. Dalam kaitan itu, Teddi menelaah “fungsi sosial” dari kritik sastra Sunda AR. Ia menemukan dari tulisan-tulisan AR bahwa fungsi itu adalah menyuarakan kesadaran akan perlunya “renaisans Sunda”. Istilah “renaisans” dalam hal ini berasal dari AR sendiri (dengan ejaan Sunda “rénaisangs”). 

Kalau saya tidak keliru membacanya, yang dibayangkan melalui pemakaian istilah “renaisans Sunda” adalah bangkitnya kembali bahasa, nilai budaya, dan karakter manusia Sunda yang rancagé (kreatif) dan mandiri. Pijakannya, terutama, adalah bahasa, nilai budaya, dan karakter manusia yang dapat digali dari warisan sastra zaman bihari (dahulu), sebelum masyarakat Sunda terkooptasi oleh masyarakat lain pada zaman kamari (kemarin), demi mengembangkan kebudayaan Sunda zaman kiwari (hari ini). 

Baca Juga: Mudah dan Cepat, Begini Cara Bayar Pajak Kendaraan di Indomaret, Alfamart Hingga Kantor Pos

Sebelum sampai pada soal “fungsi sosial” demikian, secara runtut Teddi menganalisis konsep-konsep yang melandasi kritik AR, yang meliputi pengertian “sastra” dan “kritik sastra” serta “periodisasi sejarah sastra Sunda”. Setelah itu, Teddi menganalisis “gaya bahasa” AR hingga ke pilihan kata yang diandalkannya. Kemudian ia menguraikan “posisi tekstual” dari kritik AR dalam arti kaitan kritik sastra itu dengan pokok pembicaraan di ranah publik tadi.  

Halaman:

Editor: Ari Nursanti


Tags

Komentar

Artikel Rekomendasi

Artikel Terkait

Terkini

UU ITE Mengancam Warga

15 Agustus 2020, 12:47 WIB

Tuntutan Sanitasi

13 Agustus 2020, 19:11 WIB

Enam Tahun Tanpa Ayi Beutik

10 Agustus 2020, 07:16 WIB

Lukisan Politisi

6 Agustus 2020, 06:25 WIB

Anggaran untuk PSSI

2 Agustus 2020, 13:31 WIB

Bandung Tiada Bandingnya

30 Juli 2020, 12:15 WIB

Menanggulangi Dinasti Politik

26 Juli 2020, 12:55 WIB

Kisah Tiga Indonesia

23 Juli 2020, 06:05 WIB

27 Tahun Viking Persib Club

19 Juli 2020, 14:01 WIB

Mengganggu tapi Perlu

16 Juli 2020, 07:17 WIB

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X