Identitas Kita Sama Soal Bantuan dan Mitigasi Bencana: Manusia sebagai Warga Dunia

- 30 November 2022, 06:58 WIB
Warga melintasi reruntuhan bangunan yang ambruk akibat gempa di Kampung Kedunggirang, Desa Sukamanah, Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur, Jumat 25 November 2022. Pengetahuan akan sejarah gempa menjadi penting dalam upaya mitigasi.
Warga melintasi reruntuhan bangunan yang ambruk akibat gempa di Kampung Kedunggirang, Desa Sukamanah, Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur, Jumat 25 November 2022. Pengetahuan akan sejarah gempa menjadi penting dalam upaya mitigasi. /Pikiran Rakyat/Bambang Arifianto

PIKIRAN RAKYAT - Sepuluh hari pascabencana gempa di Cianjur, kesedihan, rasa was-was, dan khawatir masih sangat dirasakan korban, baik pengungsi maupun warga yang sudah kembali tinggal ke kediamannya.

Sebagian besar warga bahkan tak berani tidur di dalam rumah karena khawatir terjadi gempa susulan. Mereka memilih tidur di teras. Apalagi, sampai saat ini masih terus terjadi gempa susulan meski dengan magnitudo yang terus mengecil. Kini, warga di pengungsian sudah boleh kembali ke rumah masing-masing.

Bantuan masih terus berdatangan. Meski demikian, ada saja kejadian yang tak diharapkan, mulai dari tidak meratanya sumbangan, terutama ke wilayah-wilayah yang sulit diakses padahal terdampak parah, sampai kejadian lain seperti pencopotan label pemberi sumbangan yang sempat ramai disorot di jagat maya.

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil pun angkat bicara dan menyesalkan pencabutan label identitas pemberi bantuan tersebut.

Hingga akhirnya, kepolisian turun tangan dan menindak mereka yang melakukannyaitu saat korban gempa membutuhkan bantuan dari banyak pihak tanpa memandang suku, agama, atau apa pun. Mereka bahu-membahu memberi bantuan.

Rasanya tak cukup waktu sebulan bagi warga terdampak bencana untuk pulih, termasuk dari aspek psikologis.

Tentunya, bencana seperti ini menyisakan trauma bagi siapa pun. Oleh karena itu, pendampingan atau trauma healing banyak dilakukan. Salah satunya untuk anak-anak yang menjadi fokus banyak pihak.

Fokus lainnya adalah pemulihan fisik seperti perbaikan tempat tinggal warga. Bahkan Ridwan Kamil terlibat langsung menghibur anak-anak yang sedang berada di pengungsian.

”Menghibur anak-anak sebagai bagian dari trauma healing yang harus kita kerjakan, mengingat mereka akan cukup lama di tenda pengungsian. Sukarelawan penghibur, musisi bergitar, psikolog, ditunggu bantuan tenaga dan ilmunya untuk menjaga mental anak-anak agar selalu ceria dan bersemangat. Hatur nuhun,” kata Ridwan Kamil.

Halaman:

Editor: Tita Salsabila


Tags

Artikel Pilihan


Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

x