Potret Pendidikan: Hasil Kebijakan Pemerintahan Orde Baru

- 14 Mei 2022, 15:45 WIB
Ilustrasi pendidikan.
Ilustrasi pendidikan. /Kemendikbud

PIKIRAN RAKYAT - Pendidikan sudah sepatutnya menentukan masa depan suatu bangsa, apalagi amanat itu di kita sudah sangat jelas melalui pembukaan UUD 1945, mencerdaskan kehidupan bangsa, tapi jika visi pendidikan tidak jelas untuk mengimplementasikannya, yang dipertaruhkan adalah kesejahteraan dan kemajuan bangsa.

Visi pendidikan harus diterjemahkan ke dalam sistem pendidikan yang memiliki sasaran jelas, dan tanggap terhadap masalah-masalah bangsa. Karena itu perubahan dalam subsistem pendidikan merupakan suatu hal yang sangat wajar, karena kepedulian untuk menyesuaikan perkembangan yang berselancar dengan perkembangan zaman.

Lahirnya orde baru dan pada saat bersamaan tumpasnya pemberontakan PKI, maka mulailah suatu era baru dalam usaha menempatkan pendidikan sebagai suatu usaha untuk menegakkan cita-cita proklamasi 17 agustus 1945.

Banyak usaha-usaha yang memerlukan kerja keras dalam rangka mewujudkan suatu sistem pendidikan yang betul-betul sesuai dengan tekad orde baru sebagai orde pembangunan.

Baca Juga: Hari Pendidikan Nasional: Utamakan Pendidikan Karakter

Namun pada masa ini pun pendidikan belum dikatakan berhasil sepenuhnya, sesuai dengan cita-cita yang diidealkan. Maka pada masa berikutnya yaitu masa reformasi diperlukan adanya pembenahan, misalnya dalam bidang kurikulum yang lazimnya kurikulum harus ditinjau paling sedikit lima tahun.

Pendidikan pada Masa Orde Baru

Orde baru berlangsung dari tahun 1968 hingga 1998, dan dapat dikatakan sebagai era pembangunan nasional. Dalam bidang pembangunan pendidikan, khususnya pendidikan dasar, terjadi suatu loncatan yang sangat signifikan dengan adanya Instruksi Presiden (Inpres) Pendidikan Dasar.

Namun, yang disayangkan adalah pengaplikasian Inpres ini hanya berlangsung dari segi kuantitas tanpa diimbangi dengan perkembangan kualitas. Karena stressing penting pada masa ini adalah menciptakan lulusan terdidik sebanyak-banyaknya tanpa memperhatikan kualitas pembelajaran dan hasilnya.

Halaman:

Editor: Rahmi Nurfajriani


Tags

Artikel Pilihan

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network