Madah Persapuan

- 28 Mei 2020, 06:00 WIB
Ilustrasi sapu lidi.* /PIXABAY

PIKIRAN RAKYAT - UNGKAPAN perpisahan dalam bahasa ibu saya adalah “sapu nyéré pegat simpay” yang secara harfiah berarti “sapu lidi putus tali”. Almarhum Sambas Mangundikarta agaknya menyadari bahwa lidi-lidi yang tadinya menyatu pada gilirannya bakal ditakdirkan berlepasan. Kita bertemu selagi masih ada waktu. Kita berpisah menurut keniscayaan waktu.

Orang Indonesia memang menemukan tamsil persatuan pada sapu lidi. Sekian ratus lidi digabungkan jadi satu, diikat jadi sapu. Tanpa “simpay” alias tali masyarakat lidi memang mustahil terbentuk. Buhul semacam itu, dalam istilah mendiang Herbert Feith, sudah pasti disebut “solidarity maker”.

“Jikalau lidi-lidi itu digabungkan, diikat, menjadi satu, mana ada manusia yang bisa mematahkan sapu lidi yang sudah diikat,” seru Presiden Soekarno dalam sebuah pidato di Bandung sekian puluh tahun silam. Bung Besar, di Hari Kebangkitan Nasional, tentu saja sedang menamsilkan ikatan kebangsaan pada suatu periode ketika potensi separatisme sesungguhnya sedang bermunculan di sejumlah daerah. Menurut almukarom, “bangsa Indonesia ini seperti sapu lidi”.

Baca Juga: Polda Metro Jaya Tanggapi Laporan Syahrini Soal Dugaan Kasus Pornografi, Dua Warga Jatim Diamankan

Dalam sebuah lagu kroncong yang sempat didendangkan antara lain oleh Toto Salmon idiom “sapu lidi” bahkan dijadikan sampiran bagi sebuah pesan patriotis: “Sapu lidi dari Karawang/rakyat sejati teruslah berjuang...

loading...

Pak Sariban dari Bandung kiranya merupakan contoh tersendiri tentang dekatnya sapu dengan politik. Mengenakan seragam kuning dan topi caping, ia menyapu jalan, memungut sampah, mengayuh sepeda.

Ketika sinisme menguat setelah reformasi, sejumlah kalangan pada 2003 mendukung Pak Sariban jadi calon gubernur Jawa Barat. Di muka bumi mungkin dialah satu-satunya figur publik yang berupaya mengubah panggung politik dengan membawa sapu lidi.

Baca Juga: Jawa Barat Bersiap Penyesuaian PSBB, Skenario Tatanan Normal Baru Terus Dimatangkan

Pak Sariban pada dasarnya bukan orang politik dan ia mungkin mafhum sejak dini bahwa politiknya pasti kalah. Tapi pesannya jelas: hidup bersih. Di tangan Pak Sariban, juga di tangan begitu banyak orang, sapu lidi adalah perkakas kebersihan — siapa bilang bukan?

Halaman:

Editor: Abdul Muhaemin


Tags

Komentar

Artikel Rekomendasi

Artikel Terkait

Terkini

Jeumpa dan Béntang

9 Juli 2020, 06:45 WIB

Apa yang Ditunggu Presiden?

7 Juli 2020, 06:47 WIB

Kepanitiaan Piala Dunia

5 Juli 2020, 13:17 WIB

Rusdi Telah Kembali

2 Juli 2020, 06:00 WIB

Jokowi Gusar, Siapa Tergusur?

30 Juni 2020, 09:36 WIB

Kesetiaan Suporter Sepak Bola

28 Juni 2020, 12:59 WIB

Orang ITB dalam Fiksi Sunda

25 Juni 2020, 06:38 WIB

Mengapa Menolak RUU HIP ?

23 Juni 2020, 10:25 WIB

Profesi Hukum di dunia Sepak Bola

21 Juni 2020, 06:41 WIB

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X