Praktik Baik di Masa Pandemik

- 19 Mei 2020, 10:43 WIB
ILUSTRASI virus corona yang melanda dunia.* /pixabay

PIKIRAN RAKYAT - Wabah corona tidak selalu menjadi monster yang menakutkan. Kemunculannya tidak hanya mengirim kisah horor, namun menantang orang untuk berkreasi menyiasati keadaan. Pemandangan seperti ini terekam dari praktik baik pendidikan selama pandemik.

Berikut beberapa praktik baik yang diakui guru dan murid yang saya sampaikan dalam Webinar Internasional Pendidikan. Webinar yang dipandu Dr. Fakhrizal Nashr dari Hebat Fasilitation (penyelenggara) Jakarta, juga menampilkan Prof. Dr. Adj. Lisa Toivonen dari Bioacademy Finlandia, dan Lara Firdani, M.Phsy., Ph.D. dari Australia.

Kesatu, penutupan sekolah-sekolah telah membuka otentisitas belajar. Edaran yang dikeluarkan Dinas Pendidikan di berbagai daerah yang meminta guru tetap memberikan materi pembelajaran secara daring melalui berbagai aplikasi yang ada memuat dua subtansi penting.

Selain aktivitas pembelajaran disesuaikan dengan minat dan kondisi masing-masing (termasuk mempertimbangkan akses/fasilitas belajar di rumah), juga menekankan pentingnya pembelajaran yang memberikan pengalaman yang lebih bermakna, tanpa terbebani tuntutan menuntaskan seluruh capaian kurikulum untuk kenaikan kelas maupun kelulusan, menyenangkan, serta difokuskan kepada pendidikan kecakapan hidup, antara lain mengenai pandemik Covid-19.

Baca Juga: Karyawan BUMN Kembali Berkantor 25 Mei, Erick Thohir Sebut Salah Persepsi

Memberi pengalaman yang lebih bermakna bagi murid adalah pembelajaran otentik yang selama ini sulit dilakukan justru karena keharusan menuntaskan seluruh capaian kurikulum untuk kenaikan kelas dan kelulusan.

Demikian pula merancang pembelajaran yang disesuaikan dengan minat dan kondisi masing-masing murid selama ini hanya berlaku dalam tataran filosofis, sebab dalam praktiknya dipaksa seragam akibat sistem kelas klasikal.

Memberi keleluasaan kepada murid untuk belajar di rumah membuat layanan pendidikan menjadi customize. Masalahnya, manajer pembelajaran yang sesungguhnya bergeser dari guru kepada orang tua. Tantangan ini menghadirkan praktik baik kedua, yakni mengembalikan fungsi keluarga sebagai pendidikan pertama bagi anak.

Belajar di rumah bukan saja memberi waktu yang lebih leluasa untuk bermain bersama keluarga, tetapi membuat orang tua lebih terlibat. Kehadiran orang tua sebagai guru lebih terasa ketika seorang anak mengalami kesulitan mengerjakan tugas-tugasnya.

Halaman:

Editor: Ari Nursanti


Tags

Komentar

Artikel Rekomendasi

Artikel Terkait

Terkini

Diego Maradona, Puncak Duka 2020

26 November 2020, 09:19 WIB

Arema yang Mana

16 November 2020, 15:14 WIB

Menjadi Ayah

13 November 2020, 19:28 WIB

Pertaruhan Nyawa Bulu Tangkis

4 November 2020, 12:08 WIB

Pikiran Jurnalis

25 Oktober 2020, 17:43 WIB

Sekarang KPK sudah Menjadi Biasa Saja

21 Oktober 2020, 09:58 WIB

Membaca Bandung

14 Oktober 2020, 08:31 WIB

Seni Mengarungi Ombak

3 Oktober 2020, 07:40 WIB

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X