Rabu, 27 Mei 2020

Seperti Telur Bebek yang Ditetaskan Ayam

- 12 Mei 2020, 07:42 WIB
ILUSTRASI belajar di rumah.* /ANTARA



PIKIRAN RAKYAT - Kebijakan work from home membuat aktivitas kampus dan sekolah serba daring. Proses belajar mengajar dilakukan secara online. Begitu juga absensi, pemberian tugas hingga ujian.

Berbagai kritik dan apresiasi muncul, namun tidak bisa menghentikan praktik ini karena tidak ada cara lain. Tulisan ini tidak akan ikut-ikutan mengkritik, namun akan menganalisisnya secara emik (apa makna daring menurut guru dan apa artinya bagi murid).

Banyak guru berharap pembelajaran secara daring bisa menjadi solusi di saat pandemi melanda, namun tidak jarang harapan ini berubah menjadi angan-angan karena beberapa kondisi berikut. Kesatu, beberapa guru mengakui pembelajaran yang dipraktikannya selama pandemi ini jauh dari sempurna.

Mereka sudah mengunduh aplikasi yang memungkinnya bisa bertatap muka dengan murid-muridnya, namun tidak bisa dipakai. Selain alasan (klasik) sinyal, banyak muridnya tidak bisa mengunduh aplikasi ini karena telpon pintarnya tidak mendukung dan murid-muridnya memanfaatkan handphone hanya untuk main games.

Baca Juga: 6 Makanan yang Bisa Dimakan Banyak Tanpa Khawatir Membuat Gemuk

Lebih dari itu, alasan tidak ada kuota seperti tembok yang tidak bisa ditembus. Kondisi ini membuatnya tidak memiliki pilihan lain, kecuali mengikuti apa yang dilakukan teman-teman gurunya: mengabsen murid (sekaligus mengecek kesehatannya) melalui whatsapp, mengirim tugas dan menerima laporan bahwa muridnya mengerjakan tugas lewat foto yang dikirim orang tuanya melalui aplikasi yang sama. Tak heran, bagi murid belajar daring identik dengan banjir tugas atau soal.

Kedua, aplikasi yang disediakan pemerintah lewat salah satu saluran televisi juga tidak diikuti murid-muridnya. Orang tua murid, yang juga seorang guru, mengaku tidak bisa memaksa anaknya menonton siaran pendidikan, karena anaknya lebih “nurut” kepada guru sekolahnya ketimbang dirinya.

Lebih dari itu, menurut anaknya aplikasi yang disediakan pemerintah itu dinilai sama tidak menariknya dibanding games kegemarannya. Jadi, karena sehari-hari memanfaatkan handphone untuk main games, kegiatan “belajar berbasis handphone” malah memberi ruang yang leluasa untuk bermain games. Kata orang Subang, “cul dogdong tinggal igel”, lupa tugas malah asyik main games.

Baca Juga: Update Virus Corona di Dunia 12 Mei 2020: Rusia Alami Lonjakan Kasus Sebanyak 11.656 Orang

Ketiga, yang menjadi kreatif di saat belajar online justru ibu-ibu orang tua murid. Selain terlibat berbagai kegiaan amal, banyak ibu yang bertindak sebagai guru di rumah dengan “mendirikan home schooling” dadakan. Dia menerima apa yang harus dikerjakan anaknya dari gurunya, kemudian bertindak sebagai guru yang mendampingi anaknya belajar di rumah.

Halaman:

Editor: Ari Nursanti


Tags

Komentar

Artikel Terkait

Terkini

Ketika Budak Menjadi Raja

26 Mei 2020, 09:52 WIB

Bibliografi D.D.

21 Mei 2020, 07:43 WIB

Praktik Baik di Masa Pandemik

19 Mei 2020, 10:43 WIB

Jejak Bus Kota Robur di Bandung

16 Mei 2020, 06:00 WIB

Maut dan Bersin

14 Mei 2020, 09:12 WIB

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X