Rabu, 27 Mei 2020

Menyiapkan Kegiatan Pariwisata Pascapandemik

- 9 Mei 2020, 05:48 WIB
GUNUNG Prau-Dieng, Jawa Tengah.* /DOK. T Bachtiar

VIRUS itu datang menghantam segala sektor kehidupan secepat rudal, tapi dampaknya lambat menghilang, selambat pedati sapi.

Semula, banyak orang tak mengira dampaknya seburuk ini. Seolah yang akan merasakan akibat buruknya hanya warga Wuhan di Tiongkok.

Tapi setelah merembet begitu cepat ke berbagai penjuru dunia, virus dengan daya bunuh yang dahsyat ini, diderita juga oleh berbagai kalangan di berbagai belahan dunia, tak terkecuali Amerika Serikat.

Dengan adanya virus corona, menjadi terlihat nyata, bahwa manusia tidak bisa terlepas dari orang lain. Di dunia yang tanpa batas ini, manusia akan selalu terhubung secara sosial dan secara fisik karena beragam alasan, seperti perdagangan berskala dunia.

 Baca Juga: Aturan Baru Dikeluarkan, Ini Daftar Masyarakat yang Boleh Mudik di Tengah Pandemi COVID-19

Ketika komunikasi antar benua berada di genggaman tangan, didukung transportasi udara dan laut yang lancar dan terjadwal pasti, sekarang sudah sangat lazim, para perancang mode di berbagai belahan dunia, mengirimkan rancangannya melalui surat elektronik ke para pemesan di industri pakaian yang berlokasi di Paris atau di Amerika Serikat, misalnya.

Industri pakaian memesan kain yang berkualitas terbaik, yang sesuai dengan kebutuhannya dari berbagai pabrik di dunia, tak terkecuali dari Indonesia. Industri pakaian itu akan memesan kancing atau resleting terbaik dari Tiongkok, dan benang dari India.

Baca Juga: Duga Ada Otak di Balik Tertangkapnya Roy Kiyoshi, Pengacara: Ada yang Sakit Hati dengan Roy

Semua kebutuhan itu dikirim ke pabrik pembuatan pakaian di Jawa Barat atau di Vietnam, misalnya. Begitu pun gehu atau bala-bala yang begitu banyak penggemarnya di Jawa Barat, atau keripik tempe, tempe bacem, dan mendoan, semua gandum dan kedelenya didatangkan dari Amerika Serikat.

Buah-buahan yang tersaji di meja makan, makanan yang disantap saat berbuka puasa, banyak yang diimpor dari berbagai Negera. Ini dapat dijadikan contoh, betapa manusia, di dunia saat ini tidak bisa terlepas dari manusia di tempat lainnya.

Halaman:

Editor: Gita Pratiwi


Tags

Komentar

Artikel Terkait

Terkini

Ketika Budak Menjadi Raja

26 Mei 2020, 09:52 WIB

Bibliografi D.D.

21 Mei 2020, 07:43 WIB

Praktik Baik di Masa Pandemik

19 Mei 2020, 10:43 WIB

Jejak Bus Kota Robur di Bandung

16 Mei 2020, 06:00 WIB

Maut dan Bersin

14 Mei 2020, 09:12 WIB

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X