Rabu, 27 Mei 2020

Hidup Campursari

- 7 Mei 2020, 06:00 WIB
POTRET Didi Kempot.* //Instagram/@Didikempot_Ofiicial

PIKIRAN RAKYAT - Kesedihan kolektif mengiringi kepergian vokalis superstar Didi Kempot. Seraya ikut menyimak suasananya, saya menyadari lagi pentingnya campursari dalam hidup sehari-hari.

Sang superstar menyanyi dalam bahasa Jawa, diiringi instrumen yang memadukan Timur dan Barat, menimbulkan kegandrungan bahkan di kalangan generasi milenial.

Istilah campursari merembes ke dalam bahasa Indonesia dari bahasa Jawa. Kamus Besar Bahasa Indonesia menerangkan istilah ini dalam dua pengertian.

Pertama, istilah kuliner, mengacu kepada “penganan kukus, dibuat dari ketela pohon yang diparut, diwarnai, dan diurap dengan kelapa yang digarami”.

Kedua, istilah seni musik, mengacu kepada “perpaduan antara tangga nada diatonik dan pentatonik."

Baca Juga: 2 Tahun Tak Diterima, Politisi PDIP Curiga Petahana Politisasi Bansos Jelang Pilkada

Dalam bahasa ibu saya, bahasa Sunda, istilah yang sepadan kiranya adumanis. Campuran yang tersirat dari istilah tadi bukan campuran tidak keruan. Tidak asal berbaur, bukan campur aduk.

Campuran yang terbayangkan adalah persenyawaan antarelemen yang menyenangkan. Itulah perpaduan yang manis atau, dalam istilah Sunda, nyari — istilah yang juga bertolak dari kata dasar sari.

Ahli etnomusikologi Joko Tri Laksono, dalam telaahnya dalam jurnal Resital (Vol. 9 No. 2/Desember 2008), memberi kita pemahaman tentang musik dan lagu campursari.

Halaman:

Editor: Ari Nursanti


Tags

Komentar

Artikel Terkait

Terkini

Ketika Budak Menjadi Raja

26 Mei 2020, 09:52 WIB

Bibliografi D.D.

21 Mei 2020, 07:43 WIB

Praktik Baik di Masa Pandemik

19 Mei 2020, 10:43 WIB

Jejak Bus Kota Robur di Bandung

16 Mei 2020, 06:00 WIB

Maut dan Bersin

14 Mei 2020, 09:12 WIB

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

Ringtimes Banyuwangi

Sajadah

27 Mei 2020, 14:00 WIB
X