Rabu, 27 Mei 2020

Ranca Biuk, Aroma Busuk Lahan Basah

- 25 April 2020, 08:10 WIB
Rancabiuk.* /DOK. T BACHTIAR

DARI ketinggian, dasar Cekungan Bandung akan terlihat datar. Di beberapa tempat masih berupa empang dan persawahan, bahkan sampai saat ini. Sebagian lainnya sudah banyak yang diurug, ditimbun agar menjadi lebih tinggi dari sekitarnya, lalu di atasnya dibangu rumah-rumah, seperti menjadi nama geografi Sukasaeur.

Permukiman baru itu pada awalnya mengelompok sesuai dengan daerah asal penghuninya. Misalnya permukiman baru yang terdiri dari tiga empat rumah itu penghuninya berasal dari Tarogong, Garut, maka disebutlah tempat itu Babakan Tarogong.

 Baca Juga: WFP Sebut Negara Berkembang di Ambang Katastropik, Terjadi Jika Lockdown Terus Berlaku

Karena keamanan yang mengancam jiwa, secara bertahap semakin hari semakin banyak orang Tarogong yang mengikuti jejak pendahulunya. Kalau penghuninya berasal dari Surabaya, Jawa Timur, pada saat rel keretaapi Jakarta – Bandung dibangun, banyak sekali pekerja yang berasal dari Surabaya yang permukiman mengelompok, maka permukiman baru itu disebut Babakan Surabaya.

Pada awal penghunian dasar Cekungan Bandung, untuk berjalan dari satu rumah ke rumah lainnya, harus melintasi persawahan dan anak-anak sungai, sehingga dikemudian hari kawasan tempat sasak, cukang, jembatan kecil sederhana dari bambu atau batang pohon itu menjadi nama kawasan, seperti Cukangkawung, jembatan kecil yang dibuat dari batang pohon kawung, Cukanghaur, jembatan kecil yang dibuat dari jenis bambu haur, Cukangjati, jembatan kecil yang dibuat dari batang pohon jati. Kalau belum ada cukang, warga harus banyak meloncati sungai-sungai kecil itu, sehingga kawasannya dikemudian hari menjadi Ciluncat.

 Baca Juga: Deretan Artis Hollywood yang Ikut Jalani Puasa Ramadhan 1441 H

Pada tahun 1910, di selatan jalan raya pos atau jalan raya Danedels, kawasannya masih berupa rawa-rawa.

Bahkan ketika ibu kota Kabupaten Bandung dipindahkan dari Karapyak, di tempuran Ci Kapundung dengan Ci Tarum ke dekat jalan raya pos, di tempat yang sekarang menjadi rumah dinas Wali Kota Bandung, di selatan alun-alun.

Di selatan dari pusat pemerintah zaman kolonial awal abad ke-20 itu masih berupa rawa. Rawa-rawa yang berada di selatan kantor kabupaten, kemudian dibuat balong, kolam yang sangat besar, yang kemudian hari menjadi nama geografi Balonggedé. Dari Tegallega ke arah selatan, barat, timur, kawasannya masih berupa rawa-rawa.

 Baca Juga: Pemprov Jabar Beli Ventilator Buatan PT DI dan PT Pindad, Penuhi kebutuhan RS Rujukan

Halaman:

Editor: Gita Pratiwi


Tags

Komentar

Artikel Terkait

Terkini

Ketika Budak Menjadi Raja

26 Mei 2020, 09:52 WIB

Bibliografi D.D.

21 Mei 2020, 07:43 WIB

Praktik Baik di Masa Pandemik

19 Mei 2020, 10:43 WIB

Jejak Bus Kota Robur di Bandung

16 Mei 2020, 06:00 WIB

Maut dan Bersin

14 Mei 2020, 09:12 WIB

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X