Rabu, 27 Mei 2020

Hikayat Martin

- 23 April 2020, 06:00 WIB
KARIKATUR.* /HAWE SETIAWAN

DI tengah pandemi, sambil mengurung diri, saya membaca memoar Martin Aleida, Romantisme Tahun Kekerasan (2020). Tak terasa tiga hari berjalan, menjelajahi lima bab dalam 271 halaman.

Buat Anda yang belum sempat membaca buku ini, boleh kiranya saya tarik garis besarnya. Penulis muda asal Tanjung Balai, mahasiswa Akademi Sastra Multatuli, bekerja di Jakarta sebagai wartawan istana untuk Harian Rakjat pada zaman Soekarno. Menyusul heboh Gerakan 30 September 1965, sang wartawan kehilangan pekerjaan, disekap oleh tentara yang menjalankan Operasi Kalong dalam sebuah kamp konsentrasi di Jakarta. 

Baca Juga: PSBB Jakarta Periode Kedua, Anies Sebut Tanpa Peringatan Pelanggar Langsung Ditindak

Setelah bebas, susah-payah ia bangkit dengan identitas baru. Ia jadi pedagang kaki lima, kemudian membuka kios pakaian sambil menulis cerita pendek. Kembali ke bidang jurnalistik, ia bergabung dengan majalah Ekspres, kemudian beralih ke majalah Tempo. Ia melanglang buana, memperdalam bahasa Inggris di Georgetown University. Cerita-cerita pendeknya mendapatkan sambutan hangat dari masyarakat pembaca. 

Martin menemukan lagi dunia yang sangat dicintainya: kata-kata. Dengan kata-kata, ia melukiskan perjalanan hidupnya seraya menyuarakan kesaksian atas jalannya sejarah yang mempengaruhi nasibnya.

Terbitnya memoar ini turut melengkapi kesaksian atas kekerasan politik Orde Soeharto. Militerisme merebut dan melanggengkan kekuasaan dengan menumpas Partai Komunis Indonesia (PKI) beserta semua organ dan simpatisannya. Peristiwa September dijadikan dalih buat memfitnah, memburu, menyekap, bahkan membunuh begitu banyak orang. 

Baca Juga: Warga Miskin Baru akibat Covid-19 di Kabupaten Bandung Sekitar 4.000-6.000 KK per Desa

Jago Main Tikungan

Judul buku merefleksikan ironi, barangkali seperti cinta di masa kolera. Zamannya memang keras tapi si anak zaman masih sempat mereguk manisnya hidup. Ada kamp konsentrasi tapi juga ada Sri Sulasmi, gadis Solo yang bagi Martin adalah teman sehidup semati. Dalam pusaran “tahun kekerasan” ia tidak terperosok ke dalam depresi atau nekad bunuh diri. Ia tidak seperti Charles Bidien, sang pejuang kemerdekaan yang terlupakan. 

Buat saya sendiri, bagian dari generasi Orde Baru sebagaimana anak Bang Martin, Romantisme Tahun Kekerasan adalah salah satu memoar terbaik setelah Guruku Orang-orang dari Pesantren karya almarhum Saifuddin Zuhri. Senang sekali saya membacanya, mungkin karena di dalamnya saya mendapatkan lukisan manusia.  

Halaman:

Editor: Gita Pratiwi


Tags

Komentar

Artikel Terkait

Terkini

Ketika Budak Menjadi Raja

26 Mei 2020, 09:52 WIB

Bibliografi D.D.

21 Mei 2020, 07:43 WIB

Praktik Baik di Masa Pandemik

19 Mei 2020, 10:43 WIB

Jejak Bus Kota Robur di Bandung

16 Mei 2020, 06:00 WIB

Maut dan Bersin

14 Mei 2020, 09:12 WIB

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

Ringtimes Banyuwangi

Sajadah

27 Mei 2020, 14:00 WIB
X