Senin, 25 Mei 2020

Bangsa Pendebat

- 6 April 2020, 11:18 WIB
ILUSTRASI virus corona.* /PIXABAY

PIKIRAN RAKYAT – Munculnya wabah virus corona bisa jadi semakin menunjukkan watak bangsa ini yang senantiasa berdebat, dan sulit menemukan kata sepakat terkait satu hal.

Dari mulai mekanisme dan teknis yang tepat untuk dipilih guna menanggulangi wabah, konsep lockdown, isolasi mandiri, anjuran bekerja dari rumah (Work From Home) hingga apakah harus menggunakan masker bagi mereka yang tidak sakit, semua diperdebatkan secara gamblang di ruang publik.

Baca Juga: Sehidup Semati, Pasangan Suami Istri Meninggal karena COVID-19 hanya Berselang 6 Menit

Terlebih arena media sosial. Ketika para elit sulit menemukan kesepakatan terkait hal strategis dan vital, warga malah menambah kental hobi debat untuk hal-hal remeh yang sebenarnya tak penting untuk diperdebatkan, seperti cara memakai masker yang benar ataupun waktu yang tepat untuk berjemur dan terkena sinar matahari.

Tampaknya apapun bisa diperdebatkan di negeri ini selama itu bisa, tanpa perlu melihat sisi penting tidaknya ataupun produktivitas yang ingin dicapai, yang penting berbeda pendapat.

Bahaya Nostalgia Orba

Salah satu arti penting demokrasi tentunya adalah kebebasan untuk berpendapat, pasca reformasi keran berpendapat terbuka lebar, semua boleh berbicara apa saja dan mengemukakan isi kepalanya, walau belakangan muncul juga peraturan-peraturan yang membatasi dan mengatur hal ini, sebut saja UU ITE, UU Penyiaran hingga Undang-Undang Keterbukaan Informasi Publik.

Baca Juga: 6 Perawat Meninggal dalam Status PDP Covid-19

Namun yang namanya euforia tentu sulit dibendung, seperti apa yang diumpamakan oleh almarhum Arif Sidharta, guru besar Fakultas Hukum UNPAR sebagai “kuda lepas ti gedogan”.

Jadi bangsa yang puluhan tahun dibungkam oleh rezim orde baru, dilarang berpendapat beda dengan otoritas terlebih mengkritik tiba-tiba menemukan momentum reformasi, seperti kuda yang lama dikekang tiba-tiba dilepas maka dia akan menjadi sangat liar dan menendang ke segala arah.

Halaman:

Editor: Gita Pratiwi


Tags

Komentar

Artikel Terkait

Terkini

Bibliografi D.D.

21 Mei 2020, 07:43 WIB

Praktik Baik di Masa Pandemik

19 Mei 2020, 10:43 WIB

Jejak Bus Kota Robur di Bandung

16 Mei 2020, 06:00 WIB

Maut dan Bersin

14 Mei 2020, 09:12 WIB

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X