Selasa, 2 Juni 2020

Pileuleuyan PR Minggu

- 17 Maret 2020, 06:49 WIB
ILUSTRASI koran.* /PIXABAY

Dengan begitu, suguhan berita cetak dan digital menjadi sama, hanya dibedakan dari sisi kedalamannya.

Kesalahan semacam ini akan dihukum dengan ditinggalkannya media cetak. Hanya apabila ada sesuatu yang khas media cetak, dan tak tergantikan media digital, orang akan tetap bergantung kepada koran atau majalah.

Baca Juga: Kota Bandung Lengang, Usai Keluarnya Edaran Oded M Danial Terkait Covid-19

Ketergantungan ini harus dijaga, sama seperti pengelola platform digital memperhatikan respon pembacanya.

Kehadiran koran seperti keberadaan kuliner lokal. Meski ditiru di banyak restoran, atau bisa dibawa ke mana-mana, cita rasa kuliner lokal yang membuatnya tetap diburu, menjadi daya hidupnya. Koran pun begitu.

Selain segmentasi pembacanya, kedahsyatan koran dalam mengamplifikasi emosi dan memelihara jalinan rasa dengan budaya, sentimen, dan bahasa yang menjadi habitatnya menjadi plasenta yang menghubungkan koran dengan pembaca tradisionalnya.

Baca Juga: Melonjak, ODP Covid-19 di Banyumas Jadi 217 Orang

Tindakan mereproduksi kosa kata baru atau mengarusutamakan entitas budaya anyar, bisa jadi memutus jalinan rasa koran dan pembacanya.

Koran dengan nama yang sama bisa saja hadir, namun pembaca merasa asing. Jika ini terjadi, kematian koran benar-benar tinggal menghitung hari. Naudzubillahi min dzalik.***

Halaman:

Editor: Ari Nursanti


Tags

Komentar

Artikel Terkait

Terkini

Mendadak New Normal

1 Juni 2020, 08:55 WIB

Madah Persapuan

28 Mei 2020, 06:00 WIB

Ketika Budak Menjadi Raja

26 Mei 2020, 09:52 WIB

Bibliografi D.D.

21 Mei 2020, 07:43 WIB

Praktik Baik di Masa Pandemik

19 Mei 2020, 10:43 WIB

Jejak Bus Kota Robur di Bandung

16 Mei 2020, 06:00 WIB

Maut dan Bersin

14 Mei 2020, 09:12 WIB

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X