Sabtu, 4 April 2020

Kasepuhan Ciptagelar

- 29 Februari 2020, 06:00 WIB
Pipa pesat dan rumah pembangkit mikrohidro.* /T Bachtiar

PIKIRAN RAKYAT - Sedikit berjalan menurun ke utara, bentangan persawahan yang menghijau dalam petakan-petakan yang bertingkat-tingkat mengikuti garis ketinggian. Lereng pematangnya sudah ada yang dibersihkan, sehingga tampak menjadi garis-garis kecoklatan dalam hijaunya persawahan. Membersihkan pematang dilakukan pada saat padi sawah sudah mulai reuneuh (hamil).

Umur atau usia padi di Kasepuhan Ciptagelar, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat itu nyaris sama, karena tandurnya, menanamnya, dilakukan dalam waktu secara serempak, atau tidak berbeda jauh. Pada usia kehamilan padi itulah pematang sawah harus dibersihkan, agar tidak ada hama yang dapat mengganggu perkembangan padi.

Pada malam hari yang sudah ditentukan, diadakan selamatan, bersyukur padi sudah tumbuh sampai usia kehamilan, semoga mulus menghasilkan padi dengan baik pada saat panen nanti.

Baca Juga: Mikrohidro Hadir, Kampung Adat Ciptagelar Tak Lagi Gulita

Air cor-cor, melimpah jernih, mengalir dari petakan sawah ke petakan di bawahnya. Gemercik air dari saluran bambu dan irama angin yang mengayun lembut embun yang bergelantungan di pucuk padi. Berjuta kemilau embun memantulkan kehangatan matahari yang mulai tampak dari balik kerimbunan pucuk bambu dan pohon kawung. Kehangatan matahari itulah yang akan mengusap embun yang kuyup di daun padi.

loading...

Keadaan ronabumi kawasan yang menjadi pusat Kasepuhan Ciptagelar, demikian juga ronabumi yang menjadi pusat-pusat kasepuhan sebelumnya, umumnya berada di dalam ronabumi yang berbentuk tapalkuda.

Keadaan seperti ini bisa dilihat mulai dari Cipatat Kolot, Guradog, dan seterusnya, sampai Sirnaresmi yang berada di dalam tapalkuda Gunung Halimun Selatan yang bukaannya menghadap ke Selatan. Demikian juga Kasepuhan Ciptagelar, berada di kawasan pinggiran dalam tapal kuda dari gunungapi tua Halimun yang menghadap selatan-barat. 

Baca Juga: Tradisi Ciptagelar di Sukabumi Mampu Pertahankan Kampung Adat

Ronabumi berbentuk tapalkuda ini diawali pada saat gunung Halimun (dan gunungapi lainnya tempat kasepuhan sebelumnya) yang masih aktif. Magma yang sedang naik ke permukaan tertahan oleh magma yang sudah lama membeku di leher gunungapi. Magma baru yang bergerak ke atas, kemudian tertahan karena energinya tak kuat mendobrak magma yang sudah membatu tadi. Maka pergerakan magma akan mencari bidang lemah, biasanya berupa sesar/patahan setempat yang berada di sekitar gunungapi. Arah pergerakan magma menuju bidang lemah, sampai pada suatu saat magma mampu mendobrak bagian samping/lereng gunung.

Halaman:

Editor: Abdul Muhaemin

Artikel Terkait

Tags

Komentar

Terkini

Pangampaan, Pabrik Minyak Keletik

4 April 2020, 08:55 WIB

Peluk Cium dari Jauh

2 April 2020, 06:53 WIB

Imunitas Sosial

31 Maret 2020, 06:26 WIB

Nama dan Rupa Pikiran Rakyat

26 Maret 2020, 06:52 WIB

Pemalsu Jersey Persib Jadi Terancam

22 Maret 2020, 14:08 WIB

Cisago dan Cisagu, Habitat Kiray

21 Maret 2020, 06:00 WIB

Jalan ke Rumahmu

19 Maret 2020, 06:00 WIB

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X