Para Pangeran

- 25 Februari 2020, 05:58 WIB
ILUSTRASI mahkota, raja, pangeran, kerajaan.* /PIXABAY

SANG Pangeran selalu menyedot perhatian, dari zaman ke zaman. Socrates di dalam The Republic, mengganggu pikiran para pangeran dengan pertanyaan mendalam tentang keadilan.

Lalu 1.900 tahun kemudian, Niccolo Machiavelli lewat The Prince, mendedikasikan nasihat-nasihat kepemimpinannya untuk Pangeran Lorenzo de Medici, anggota keluarga Medici, yang memerintah Florence Renaissance.

Baca Juga: Klub Saingan tak Senang jika Manchester City Terdegradasi dari Liga Inggris

Kini ketika semua warga adalah raja tak bermahkota, ketika monarki telah berganti republik, dan tiran telah berwajah demokrat, perhatian masih tercurah kepada para pengeran.

Mereka tidak bertahtakan mahkota, atau berselimut jubah kebesaran, namun kekuasaan yang berputar di sekitar keluarga mereka telah menempatkannya sebagai “primus interpares”.

Baca Juga: 9 Tindakan yang Membuat Uang Anda Cepat Habis

Berkat silsilah dan golongan darah, mereka ditahbiskan sebagai para “pangeran demokratis”.

Mereka mengantongi hipotek penjamin sukses, meski tidak melakukan apa pun. Mereka akan memanen dukungan, takkan kesulitan rekomendasi partai, meski tidak memiliki deposit politik (pengalaman dalam menangani urusan publik) yang memadai.

Baca Juga: 5 Manfaat Kesehatan dari Minyak Bawang Putih yang Belum Banyak Diketahui

Halaman:

Editor: Ari Nursanti


Tags

Komentar

Artikel Rekomendasi

Artikel Terkait

Terkini

Diego Maradona, Puncak Duka 2020

26 November 2020, 09:19 WIB

Arema yang Mana

16 November 2020, 15:14 WIB

Menjadi Ayah

13 November 2020, 19:28 WIB

Pertaruhan Nyawa Bulu Tangkis

4 November 2020, 12:08 WIB

Pikiran Jurnalis

25 Oktober 2020, 17:43 WIB

Sekarang KPK sudah Menjadi Biasa Saja

21 Oktober 2020, 09:58 WIB

Membaca Bandung

14 Oktober 2020, 08:31 WIB

Seni Mengarungi Ombak

3 Oktober 2020, 07:40 WIB

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X