Senin, 6 April 2020

Kritik Para Raja

- 11 Februari 2020, 15:40 WIB
HJ Siti Riti Romlah istri dari H Jajang Mubarok , di Blok babakan Lebak, Desa Banyusari, Kecamatan Malausma, Kabupaten Majalengka menunjukan kepengurusan Paguyuban Tunggal Rahayu Kandang Wesi 101-010 (AMPERA) yang nantinya diberikan kepercayaan untuk membagikan harta karun kepada warga Majalengka di tokonya. Di sana juga ada sejumlah catata yang katanya wasiat, dicetak besar di tempel di dinding tembok ruangan.* /TATI PURNAWATI/KC

Saya tidak tahu persis apa motif mereka mendirikan kerajaan atau kekaisaran baru,  namun ketika pertama kali mendengar kasus ini, memori saya langsung teringat pada lakon “Si Cepot Jadi Raja”. 

Baca Juga: Podomoro Park Wujudkan Kepedulian Sosial dengan Memperbaiki Sejumlah Pintu Air

Si Cepot sadar betul bahwa status dan penampakannya tidak pantas jadi raja, namun dia tidak tahan melihat ulah raja, keluarga, dan para menak, yang bertingkah dalam cara-cara yang tidak mencerminkan keluhuran seorang raja

Si Cepot pun mengadu kepada Dewa, dan Dewa pun mengubah tampilan Cepot menjadi seorang ksatria tampan dan gagah. 

Maka Si Cepot pun menjadi raja dengan misi khusus: memberi pelajaran kepada raja yang tengah bertahta. Kekuasaan Cepot berakhir begitu sang raja sadar akan kealfaan dirinya.

Terlepas dari unsur ekonomi (dan penipuan yang dituduhkan), mungkin saja kelompok ini pada mulanya didorong oleh kegelisahan atas apa yang kemudian mereka canangkan sebagai tujuan kerajaan ini. 

Baca Juga: Legenda Liga Inggris Yakini Karier Paul Pogba di Manchester United Sudah Habis

Sayangnya, tujuan yang agung tadi tidak menemukan penyaluran dan instrumen yang memadai, bahkan kemudian dinilai menyimpang. 

Kegelisahan itulah yang harus ditangkap sebagai kritik, atau mungkin counter culture, bahwa sebenarnya menjadi raja (baca: penguasa yang absah) adalah paduan simbol dan substansi. Mereka yang berkuasa dilengkapi dengan sejumlah simbol yang menopang eksistensi mereka, sekaligus mengusung misi dan tujuan luhur sebagai substansi atas kehadirannya. 

Namun harga seorang penguasa akan mengalami inflasi ketika eksistensinya hanya simbolik, instrumental, atau pseudo. Sebaliknya, kehadiran seorang penguasa (apalagi raja) bisa terkikis legitimasinya jika telah kehilangan simbol yang menyatukan warga dan melambangkan kebesaran kerajaannya.

Halaman:

Editor: Gita Pratiwi

Artikel Terkait

Tags

Komentar

Terkini

Pangampaan, Pabrik Minyak Keletik

4 April 2020, 08:55 WIB

Peluk Cium dari Jauh

2 April 2020, 06:53 WIB

Imunitas Sosial

31 Maret 2020, 06:26 WIB

Nama dan Rupa Pikiran Rakyat

26 Maret 2020, 06:52 WIB

Pemalsu Jersey Persib Jadi Terancam

22 Maret 2020, 14:08 WIB

Cisago dan Cisagu, Habitat Kiray

21 Maret 2020, 06:00 WIB

Jalan ke Rumahmu

19 Maret 2020, 06:00 WIB

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X