Rabu, 26 Februari 2020

Maung Bayangan

- 23 Januari 2020, 06:00 WIB
MACAN kumbang.* /FREEPIK

SEEKOR macan kumbang yang sakit hati ingin mati dengan cara terhormat. Ia membuat perhitungan dengan siapa lagi kalau bukan manusia, sumber dari segala kerusakan hutan.

Kisah itu saya ikuti dalam novel Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta karangan Luis Sepúlveda.

Karya sastrawan dan aktivis Cile ini sampai ke pembaca Indonesia berkat penerjemah Ronny Agustinus dan penerbit Marjin Kiri, pertama kali pada 2005, dicetak ulang pada 2017.

Karangan aslinya berbahasa Spanyol dengan judul, Un viejo que leía novelas de amor, dan terbit pertama kali pada 1989.

Baca Juga: Era Digital Munculkan Sastra Platform Baru

Baca Juga: Dilema Lulusan Sastra Indonesia, Simak 7 Peluang Kerja Berikut

Sepúlveda menulis novel pertamanya ini di Artaturo (dulu termasuk Yugoslavia) pada 1987 dan Hamburg, Jerman, pada 1988.

Bahan cerita berasal dari pengalaman Sepúlveda turut serta dalam ekspedisi UNESCO mengenai dampak kolonisasi terhadap suku Indian Shuar di Ekuador. Ia tinggal di tengah orang Shuar selama tujuh bulan.

“Ini pengalaman menentukan yang mengubah seluruh pandangan saya,” ujar Sepúlveda dalam sebuah wawancara yang terlampir dalam terjemahan.

Halaman:

Editor: Yusuf Wijanarko

Artikel Terkait

Tags

Komentar

Terkini

Para Pangeran

25 Februari 2020, 05:58 WIB

Restu Pemerintah untuk Liga 1 2020

23 Februari 2020, 13:32 WIB

Siklus Padi di Halimun

20 Februari 2020, 06:00 WIB

Wisata Halal

18 Februari 2020, 17:26 WIB

Seputar Ayam Bandung

13 Februari 2020, 06:00 WIB

Kritik Para Raja

11 Februari 2020, 15:40 WIB

Koran Pikiran Rakyat & PERS(ib)

9 Februari 2020, 11:57 WIB

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X