Kamis, 4 Juni 2020

Asal-usul Nama Lémbang, Situ di Kaki Gunung

- 11 Januari 2020, 11:56 WIB
PANORAMA Lembang.* /DOK PRIBADI T BACHTIAR

 

KINI, Lémbang semakin dijejali orang. Warga yang bermukim terus semakin padat, ditambah para pengunjung yang penasaran dengan wahana-wahana baru. Gawir-gawir yang curam dipapras, lalu dibuat titian, dibangun menjadi tempat hunian dan hiburan.

Bangunan tempat makan-minum dan tempat untuk foto-foto dibangun susul-menyusul. Seringkali ada segmen yang jaraknya hanya 4-5 km, harus ditempat dengan lama waktu seperti perjalanan Bandung–Garut.  

Pada masa lalu, kawasan Bandung Utara ini sudah dikenal sejak lama. Tempat-tempat di ketinggian itu banyak yang dijadikan untuk melakukan laku puja kepada yang Maha Kuasa, seperti petilasan megalitik yang terdapat di Batuloceng, Bukit Palasari, Bukit Tunggul, dan di Gunung Manglayang. Kesejukan, keindahan, dan kenyamanan menjadi pemikat banyak orang untuk datung ke kawasan ini dari waktu ke waktu.

Baca Juga: Legenda Hidup Persib dan Bandung Raya FC Komentari Pelatih Timnas Shin Tae-Yong, Soroti Kedisiplinan

Pada zaman kolonial, jalan-jalan setapak diperlebar, jalan baru dibuat dan dikeraskan, sehingga pergerakan orang dan barang dari selatan ke utara dan sebaliknya menjadi lancar. Perkebunan teh semakin berkembang, memberikan keuntungan bagi yang mengelola dengan sepenuh hati.

Kemasyhuran Lémbang tidak bisa dilepaskan dari para pionir yang tinggal dan berkatya besar di sana, seperti Franz Wilhelm Junghuhn, naturalis, doktor, botanikus, geograf, dan penulis. 

Junghuhn lahir pada tanggal 26 Oktober 1809 dan meninggal di Lembang pada tanggal 24 April 1864. Untuk mengenang jasa-jasanya, di tempat ia melakukan penelitian tentang kina, dan sedikit menjadi kediamannya di Jayagiri, Lembang, ditetapkan menjadi cagar alam pada tanggal 21 Februari 1919.

Lembang menjadi populer dengan sapi perah dan susu, diawali oleh keluarga Ursone yang berasal dari Italia. Keluarga ini datang di Priangan tahun 1895, kemudian memiliki lahan yang luas di Lémbang. Di lahan itulah keluarga ini beternak sapi perah, dan susunya dapat memenuhi kebutuhan masyarakat Belanda di Priangan.

Halaman:

Editor: Gugum Rachmat Gumilar


Tags

Komentar

Artikel Rekomendasi

Artikel Terkait

Terkini

Wajah Bertopeng

3 Juni 2020, 16:59 WIB

Mendadak New Normal

1 Juni 2020, 08:55 WIB

Madah Persapuan

28 Mei 2020, 06:00 WIB

Ketika Budak Menjadi Raja

26 Mei 2020, 09:52 WIB

Bibliografi D.D.

21 Mei 2020, 07:43 WIB

Praktik Baik di Masa Pandemik

19 Mei 2020, 10:43 WIB

Jejak Bus Kota Robur di Bandung

16 Mei 2020, 06:00 WIB

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X