Senin, 27 Januari 2020

Jalma Nyakola

- 4 Desember 2019, 11:05 WIB
ILUSTRASI.* /TOMMY ANDRYANDY/PR

ISTILAH sekolah memang merupakan kata benda alias nomina. Istilah ini terutama merujuk kepada lembaga formal tempat orang belajar. Lazim juga istilah yang sama dipakai buat menunjuk bangunan tempat kegiatan belajar dan mengajar, tak perduli apakah bangunan itu kokoh sejak zaman kolonial ataukah ambruk meski baru didirikan beberapa bulan.

Pada praktiknya, dalam percakapan, kata sekolah lazim difungsikan seperti kata kerja alias verba. Sering saya mendengar orang bertanya kepada anak kecil, “Sudah sekolah belum?”

Kata sekolah dalam kalimat tanya demikian kayaknya sekelas dengan, misalnya, mandi atau makan.

Dalam bahasa ibu saya pun demikian. Nomina sakola sering difungsikan pula seperti kata kerja. Ingat saja lagu “Nimang” yang terkenal dalam bahasa Sunda. Saya sendiri mengenalnya sebagai lagu “Néléngnéngkung” dari kata-kata pertama dalam liriknya. Dalam salah satu variasinya, yang sering saya dengar di masa kanak, ada ungkapan “geura sakola ka Bandung” [lekaslah (masuk/melanjutkan) sekolah ke Bandung].


Motivasi Pak Tino

Praktik pemakaian kata sekolah seperti itu, barangkali, mencerminkan anggapan umum yang cenderung mengidentikkan sekolah dengan kegiatan belajar. Seolah-olah tidak ada orang yang bermalas-malasan di sekolah. Seakan-akan tidak ada orang yang belajar di luar sekolah. Yang pasti sekolah memang bukan tempat tidur.

Guru atau dosen yang kurang rasa humor kiranya bakal sewot ketika melihat murid atau mahasiswa tertidur di dalam kelas. Mungkin dia akan menghardik, “Kalau mau tidur, di rumah saja!” Adapun murid atau mahasiswa yang punya cadangan rasa humor boleh jadi bakal menukas, “Kalau sekolah bukan tempat tidur, berarti rumah bukan tempat belajar.”

Saya punya seorang teman yang selalu bisa melihat gejala lucu. Saya membayangkan suatu hari kami berputar-putar keliling kota. Di tengah keramaian lalu-lintas, laju mobil yang sedang dia kemudikan terhalangi oleh sebuah mobil yang kaca belakangnya dikasih stiker bertuliskan “BELAJAR”. Itu pasti dari kursus menyetir. Niscaya dia menggerutu, “Belajar kok di jalan. Mbok ya di perpustakaan.”

Tentu, belajar bisa di mana saja: di sekolah, perpustakaan, jalan, atau kuburan. Sewaktu masih kanak-kanak, misalnya, saya suka belajar menggambar di depan televisi yang menampilkan Pak Tino Sidin. “Bagus! Bagus!” Begitulah kata-kata pria berbaret itu memompa semangat belajar anak-anak Indonesia.

Halaman:

Editor: Gita Pratiwi

Tags

Komentar

Terkini

Menuju Sunda Jaya tanpa Sunda Empire

26 Januari 2020, 12:57 WIB

Maung Bayangan

23 Januari 2020, 06:00 WIB

Menempuh Jalur Negatif

21 Januari 2020, 11:47 WIB

Lampu Keadilan

15 Januari 2020, 11:52 WIB

Hadé Gogog

14 Januari 2020, 12:27 WIB

Terpopuler

Jawa Barat Network

X