Kamis, 30 Januari 2020

Bias Hasil

- 27 November 2019, 11:43 WIB
Pendidikan.*/DOK. PR /null

 

TIDAK banyak mahasiswa yang semangat menunggu jam perpustakaan buka, lalu betah berlama-lama menyingkapi helai demi helai halaman buku berdebu, sampai diusir petugas karena sudah masuk jam istirahat. Meski tidak banyak, kelompok mahasiswa seperti ini ada.

Mereka bukan tidak melek teknologi. Mereka pun bukan tidak cakap berselancar melacak jurnal digital. Mereka hanya bersetia pada proses.

Jika kebanyakan mahasiswa menganut “ideologi download” dan “copy paste” sebagai iman akademik mereka, sekelompok mahasiswa tadi rela mengunyah-muntahkan segala apa yang mereka lahap.

Meski dengan rendah hati mereka mengaku tidak pintar namun hanya ulet semata, jelas mereka mendaki jalan cerdas.

Gambaran seperti inilah yang menjadi ceruk pengalaman yang ditinggalkan banyak pihak. Bukan hanya mahasiswa, elemen lain pun lebih senang menempuh jalan pintas (shortcut).

Orientasi yang mengutamakan hasil tanpa memedulikan proses bukan hanya mencerminkan pola berpikir melompat, atau sering disebut sebagai pola berpikir kangguru, tetapi juga menunjukkan bias hasil, seperti orang yang berharap memanen namun tidak pernah menanam.

Menciptakan lingkungan belajar yang memungkinkan murid mengalami menjadi misi pendidikan yang paling genuin.

Sayangnya, misi ini tergeser oleh pendekatan instrumental dalam pengelolaan pendidikan.

Halaman:

Editor: Yusuf Wijanarko

Artikel Terkait

Tags

Komentar

Terkini

"Deru Kui Wa Utareru"

28 Januari 2020, 19:16 WIB

Menuju Sunda Jaya tanpa Sunda Empire

26 Januari 2020, 12:57 WIB

Maung Bayangan

23 Januari 2020, 06:00 WIB

Menempuh Jalur Negatif

21 Januari 2020, 11:47 WIB

Lampu Keadilan

15 Januari 2020, 11:52 WIB

Hadé Gogog

14 Januari 2020, 12:27 WIB

Terpopuler

Jawa Barat Network

X