Kamis, 30 Januari 2020

Warung Pojok

- 21 November 2019, 07:03 WIB
KOPI tubruk/NGOPIBARENG

DULU sering saya menirukan sepatah kata dari sebuah lagu populer. Berkali-kali ayah memutar kasetnya. Saya pun jadi hafal liriknya. Dalam pendengaran masa kanak, kata itu berbunyi “akéwong”.

Belakangan, setelah saya sedikit banyak mengenal keragaman bahasa, saya tahu bahwa saya keliru. Kata yang dimaksud adalah “akéh wong”, pasangan kata Jawa yang berarti “banyak orang”.

Itulah kata yang mengawali lagu “Warung Pojok” gubahan maestro tarling H. Abdul Ajib.  Lagu yang populer pada dasawarsa 1980-an itu dilantunkan oleh Hj. Uun Kurniasih. Bait pertama begini bunyinya:

Akéh wong padha kédanan masakan
akéh wong pada kélingan pelayan
ora klalén kesopanan
ning sekabéh langganan

Desa tempat saya lahir dan tumbuh terletak di Cisalak, wilayah pegunungan di belahan selatan Kabupaten Subang. Bahasanya, tentu, bahasa Sunda.

Pernah ada masanya ayah saya bekerja di Pusakanagara, wilayah pantai di belahan utara kabupaten yang sama.

Di pantura, bahasa seperti yang dipakai dalam lirik lagu tadi terdengar akrab di telinga. Namun, seingat saya, lagu “Warung Pojok” sudah sering kami dengar jauh-jauh hari sebelum keluarga kami pindah dari gunung ke pesisir.

Bahasa dari Cirebon dan Indramayu, sebagaimana angin pantai bertiup ke gunung, turut mewarnai hidup kami sehari-hari. 

Cukup lama lagu itu seakan menghilang dari ingatan saya. Syukurlah, berkat YouTube, sekarang saya bisa mendengarkannya lagi.

Halaman:

Editor: Hawe Setiawan

Tags

Komentar

Terkini

"Deru Kui Wa Utareru"

28 Januari 2020, 19:16 WIB

Menuju Sunda Jaya tanpa Sunda Empire

26 Januari 2020, 12:57 WIB

Maung Bayangan

23 Januari 2020, 06:00 WIB

Menempuh Jalur Negatif

21 Januari 2020, 11:47 WIB

Lampu Keadilan

15 Januari 2020, 11:52 WIB

Hadé Gogog

14 Januari 2020, 12:27 WIB

Terpopuler

Jawa Barat Network

X