Sosok Kontroversial

- 19 November 2019, 07:03 WIB
Politik/DOK. PR

BERTINDAK kontroversial adalah teknik untuk mendongkrak popularitas. Jalan ini banyak ditempuh pemimpin yang tidak sabar merangkak. Mereka memilih pendekatan instrumental, meski melupakan hal-hal substantif.

Projek mercusuar dibangun, meski tidak menyelesaikan masalah yang mendera rakyatnya.

Ke dalamnya termasuk mengangkat sosok kontroversial, sekedar untuk mencitrakan sebagai pemimpin yang berpikir di luar rutinitas, tidak kolot, dan penuh terobosan.

Padahal banyak pemimpin tetap masyhur meski menjauhi cara-cara--dan menghindari tokoh-tokoh--kontroversial.

Satu diantara sekian pemimpin pemberani lagi progresif namun menghindari tokoh kontroversial adalah John F. Kennedy. Presiden yang pidato pelantikannya dikenang karena seruan horoiknya, “... janganlah bertanya apa yang dapat dikerjakan negara untuk Anda, tetapi bertanyalah apa yang dapat Anda kerjakan untuk negara” dapat menerima Republikan menjadi menterinya, namun tidak tokoh yang dinilai kontroversial. 

Hal itu terjadi ketika Presiden AS ke-35 tersebut tengah memilih sosok yang tepat untuk mengisi pos sebagai  Menteri Luar Negeri. Dari internal Partai Demokrat muncul nama Stevenson, namun Kennedy keberatan, “karena tokoh tersebut sudah terlalu banyak mengambil sikap-sikap tertentu secara terbuka mengenai isu-isu pelik, sehingga memiliki kemungkinan menjadi pribadi kontroversial bagi Kongres” (Swantoro, 2019, 1000 Hari John F. Kennedy, Jakarta: Kompas).

Menghindari mengangkat sosok yang “memiliki kemungkinan menjadi pribadi kontroversial” seperti yang dilakukan Kennedy terasa relevan untuk kondisi di tanah air karena beberapa alasan berikut.

Kesatu, mengangkat sosok dengan sikap kontroversial berarti membenarkan tindakannya. Lebih dari sekedar menyokong apa yang dipandang kontroversial, tetapi juga melegitimasi tindakan kontroversial sebagai jalan menuju tangga kuasa.

Jika kontroversialnya semata melawan kelaziman masih bisa dimengerti, tetapi jika kontroversinya sampai melanggar hukum atau menabrak batasan moral, ini sulit dipahami.

Halaman:

Editor: Yusuf Wijanarko


Tags

Komentar

Terkini

Wabah menurut Dokter Cipto

24 September 2020, 07:19 WIB

Marketing Odading

20 September 2020, 13:21 WIB

Selisik Jurnalistik

17 September 2020, 06:00 WIB

Iman ke Selokan

11 September 2020, 05:51 WIB

‘Anjay’ di Tribun Stadion

6 September 2020, 20:54 WIB

Buku Paman Tom

3 September 2020, 06:00 WIB

Ajat Sudrajat 'Bad Boy' from Bandung

30 Agustus 2020, 12:12 WIB

Narasi Gunung

27 Agustus 2020, 10:18 WIB

Karaoke dan Prostitusi

23 Agustus 2020, 12:16 WIB

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X